Kabupaten Nganjuk mengalami bencana alam selama sepekan terakhir. Bahkan akibat bencana alam itu, dua nyawa balita di Kecamatan Sukomoro melayang. Sayang, ancaman bencana alam masih belum usai. Hal itu yang membuat warga waswas.
“Banjir…banjir…banjir…,” teriak salah satu pria di Dam Tanjungrejo, Kecamatan Loceret pada Senin malam (27/1). Sejurus kemudian pria tersebut mengambil handphone dari saku celana kanan miliknya. Pria itu mengarahkan handphone ke arah dam. Merekam air sungai yang meluber. “Kalau di sini banjir pasti daerah lain banjir,” terang Ahmad Fikri, 32, warga Kelurahan Ploso, Kecamatan Nganjuk kepada wartawan koran ini.
Dalam hitungan menit saja kondisi kian parah dan tak terkendali. Air yang meluber kian banyak. Tidak hanya membanjiri Dam Tanjungrejo. Namun hingga jalanan menuju ke Kelurahan Ploso, Kecamatan Nganjuk. Bahkan, saat di kondisi paling parah, air mencapai tinggi sekitar 30 sentimeter (cm).
Memang air meluber di Dam Tanjungrejo sering terjadi. Namun tidak seperti senin kemarin. Karena saat itu, banjir seakan-akan akan mengulang kejadian pada 2021 silam. Kala itu nyaris seluruh Kecamatan Nganjuk lumpuh akibat banjir. “Ini tadi (Senin, Red) parah sekali. Kejadiannya sama seperti 2021 dulu,” tambahnya.
Karena terlalu kejadian serupa, warga kini sudah hafal. Saat hujan deras mengguyur, warga akan langsung bersiap-siap. Mulai dari menunggu di Dam Tanjungrejo hingga memantau closed circuit television (CCTV) di sepanjang aliran Sungai Kuncir yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk.
Baca Juga: Zonasi Dihapus, Pengurus OSIS dan Pramuka Jadi Prioritas di SPMB 2025
Kebiasaan itu ternyata tidak hanya dilakukan oleh warga di sekitar Dam Tanjung. Namun juga di banyak daerah lain yang dilalui oleh Sungai Kuncir. Seperti yang dilakukan oleh Nurhamsyah, 31, warga Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro.
Setiap hujan deras tiba, dia selalu melihat CCTV di Dam Tanjungrejo. Saat air meluber, itu artinya banjir juga akan terjadi di lingkungan rumahnya. Oleh sebab itu, dia dapat segera bersiap. Mengamankan barang berharga yang bisa terkena banjir.
Bahkan perasaan was-was warga kian menjadi-jadi setelah kejadian Selasa lalu (28/1). Karena malam itu seorang balita bernama M. Toha Hasan Jaddit, 2, menjadi korban. Dia meninggal setelah terseret banjir di Kelurahan Kapas. “Kalau tidak ada normalisasi sungai , selamanya warga akan selalu waswas,” ujarnya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira