Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Ekonomi & Bisnis Lifestyle Seni & Budaya Opini Khazanah Video

Mengenal Tradisi Nyadran di Kabupaten Nganjuk yang Sudah Muncul sejak Ribuan Tahun Lalu

Karen Wibi • Minggu, 18 Mei 2025 | 07:15 WIB
Tradisi Nyadran
Tradisi Nyadran

NGANJUK, JP Radar Nganjuk - 1 Sura tinggal menunggu hitungan meninggu. Jelang 1 Sura, banyak tradisi dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Nganjuk. Salah satunya adalah bersih desa atau nyadran.

Di Kota Angin, kegiatan tersebut selalu dilakukan dengan sangat meriah. Bahkan, secara tidak langsung, kegiatan itu dijadikan ajang perlombaan antar desa.

Kegiatan bersih desa atau nyadran menjadi salah satu kegiatan yang sangat dinantikan oleh masyarakat di Kabupaten Nganjuk.

Biasanya, kegiatan itu dilakukan menjelang 1 Suro atau 1 Muharam. Sedangkan di tahun ini, 1 Sura jatuh pada 27 Juni esok.

Namun sejak dua bulan sebelumnya, masyarakat sudah banyak yang mengadakan kegiatan bersih desa atau nyadran.

 Salah satunya seperti yang terjadi di Desa Gejagan, Kecamatan Loceret. Di Desa itu, kegiatan nyadran berlangsung selama dua hari.

Yaitu pada 10 dan 11 Mei. Kegiatannya beragam, mulai dari doa bersama hingga melakukan pawai budaya.

 Namun sejak kapan sebenarnya budaya itu berlangsung? Menanggapi pertanyaan itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk Sri Handariningsih melalui Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Amin Fuadi menjelaskan, tradisi nyadran sudah ada sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun lalu.

 “Untuk catatan tahun pastinya tidak ada. Namun dipastikan budaya itu ada sejak jaman Hindu-Buddha di Indonesia,” ujar Amin kepada wartawan koran ini.

 Amin menjelaskan, kata “Nyadran” itu sendiri berasal dari kata “Sadran”. Artinya adalah berkunjung atau berziarah ke makam leluhur yang sudah meninggal.

Kegiatan berkunjung itu lalu dilanjutkan dengan mendoakan leluhur.

 Saat masa Hindu-Buddha, kegiatan itu biasa dilakukan secara mandiri. Hanya per keluarga. Namun seiring berjalannya waktu, kegiatan sedikit berubah.

Dari yang per keluarga menjadi per desa. “Untuk nyadran di tingkat desa biasanya mendoakan orang yang mbabat alas di wilayah tersebut. Lokasinya pasti di cikal bakal desa itu berdiri,” ujar Amin.

 Singkat cerita, Islam masuk ke Indonesia. Meski demikian, tradisi nyadran masih tetap ada. Namun tentu dengan beberapa modifikasi.

Salah satunya adalah tata cara berdoa yang lebih menyesuaikan budaya Islam. Sedangkan beberapa tahun terakhir, kegiatan nyadran mendapat modifikasi lagi.

Dari yang hanya berdoa bersama menjadi ada kegiatan lain. Seperti khataman Alquran, wayang, jaranan, hingga pawai budaya.

“Inti kegiatan mendoakan leluhur harus tetap ada. Sedangkan yang lain hanya tambahan saja,” tandas Amin.

 Sementara itu, Kepala Desa Gejagan Dedy Nawan mengatakan nyadran di desa yang dipimpinya adalah kegiatan rutin.

Setiap tahunnya kegiatan itu selalu dilakukan menjelang 1 Sura.

Kegiatannya pun bervariasi. Seperti pada tanggal 10 Mei, kegiatan dimulai dengan doa bersama.

Lalu pada tanggal 11 Mei dilanjutkan dengan pawai budaya.

“Masyarakat sangat antusias dalam menyiapkan dan mengikuti acara bersih desa atau nyadran,” ujarnya. (wib/tyo)

Editor : Redaksi Radar Nganjuk
#pawai budaya #hindu #radar nganjuk berita hari ini #doa bersama #1 sura #nganjuk #tradisi #leluhur #bersih desa #disporabudpar #nyadran #masyarakat