Efek Kekeringan di Kota Angin
NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Kebakaran terjadi di Kabupaten Nganjuk. Salah satu puncak Gunung Wilis, yakni Puncak Limas muncul kobaran api pada Minggu malam (30/8).
Menurut Camat Ngetos Nuri Prihandoko, kebakaran di puncak Gunung Wilis masuk di Desa Kepel, Kecamatan Ngetos itu terlihat sejak Minggu malam. “Minggu malam ada laporan terkait kebakaran hutan di area Gunung Wilis,” ujarnya kepada wartawan koran ini.
Kejadian itu pertama kali diketahui oleh warga sekitar. Selepas maghrib, warga melihat kepulan asap yang berasal dari Puncak Limas. Hingga malam harinya, terlihat api yang menyala dari lokasi tersebut. Beruntung, menurut Nuri, lokasi kebakaran jauh dari pemukiman warga.
Meski demikian, Nuri tetap mengimbau masyarakat sekitar untuk berhati-hati. Salah satu caranya adalah dengan tidak melakukan kegiatan yang melibatkan api dengan skala besar. “Kebakaran di Gunung Wilis memang rutin terjadi ketika musim kemarau,” tambahnya sembari mengatakan kemungkinan kebakaran terjadi akibat gesekan daun dan dahan kering.
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nganjuk Iwan Setiawan mengatakan, kebakaran yang terjadi di Gunung Wilis membuat jumlah titik panas di Nganjuk bertambah. Dari yang semula hanya tiga menjadi 14.
Iwan merinci, dari 14 titik panas, 10 diantaranya berada di Gunung Wilis yang berada di Kecamatan Ngetos. Lima berada di Puncak Limas dan lima lainnya berada di Puncak Gajahmungkur. “Dua titik panas di antaranya berada di tahap tinggi. Yakni yang berada di Puncak Limas,” ujarnya.
Beruntung, saat ini, kecepatan angin di Gunung Wilis ke arah Barat Laut tidak melaju begitu cepat. Kondisi tersebut membuat penyebaran api di Gunung Wilis juga berjalan dengan lambat. Meski demikian, menurut Iwan, masalah kebakaran hutan di Gunung Wilis harus segera diselesaikan. Dengan tujuan agar tidak banyak tanaman di Gunung Wilis yang terdampak. “Semoga kebakaran di Gunung Wilis dapat segera aman dan terkendali,” harapnya. (wib/tyo)