NGANJUK, JP Radar Nganjuk– Ganjar Pranowo melakukan safari politik di Kota Angin, kemarin. Calon presiden (capres) nomor urut 3 itu menemui ratusan petani tebu di Dusun Klinter, Desa Pelem, Kecamatan Kertosono. Kegiatan yang digelar pukul 10.45 di Lapangan Klinter, Ganjar itu membahas tentang persoalan yang kini dihadapi para petani tebu.
Capres berambut putih itu mendapat keluhan kelangkaan pupuk, impor gula pasir, dan menurunnya kualitas bibit. Koordinator Petani Tebu Nganjuk Taryono mengatakan, kualitas bibit tebu saat ini hanya bertahan tiga kali panen. “Hal itu memengaruhi produktivitas. Kalau Pak Ganjar jadi presiden masalah ini bisa segera dibenahi,” pintanya. Kualitas bibit tebu itu berbeda dengan 1980-an. Pada saat itu, bibit bisa bertahan sampai 12 kali panen.
Selain itu, Taryono juga menyampaikan keluhan lain yang dihadapi para petani tebu. Yang paling krusial menurut mereka adalah permodalan. Dulu petani tebu diberi modal dari koperasi atau Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Sekarang, pinjaman modal itu dipangkas. “Sudah dibatasi. Setelah pinjam Rp 500 juta, kami sudah tidak bisa pinjam lagi,” tambahnya.
Keluhan lainnya disampaikan M. Yahya Solehudin. Dia fokus pada kebijakan impor gula yang dilakukan pemerintah. Jika nanti Ganjar menjadi presiden hal penting yang harus dilihat sebelum melakukan impor adalah mencermati produksi hasil panen tebu dari petani. “Jangan sampai hasil panen kami 3 ton, tapi pemerintah impor 7 ton gula. Mohon regulasi yang berhubungan dengan para petani tebu bisa dibenahi,” paparnya sembari berharap Ganjar menjadi presiden. Selain impor, Yahya juga menyinggung soal kelangkaan pupuk. Petani kesulitan mendapatkan pupuk murah dan berharap ada kebijakan khusus melindungi petani agar tidak merugi.
Mendengar keluhan tersebut, Ganjar berjanji akan memperhatikan nasib petani tebu di Nganjuk. Prioritas utamanya adalah memperbaiki benih untuk peningkatan produksi. Dia menyebutkan, penurunan kualitas produksi pasti akan memengaruhi harga. Karena itu, kualitas benih harus mendapat porsi besar untuk memperbaiki produksi. “Untuk pupuk, sekarang sudah menjadi problem nasional. Tadi kami hitung hanya cukup sepertiganya saja,” tuturnya. Ganjar juga ingin petani tebu di Nganjuk untuk mandiri. Karena itu persoalan impor gula wajib mempertimbangkan produksi dalam negeri.
Sebelum mendengarkan keluhan para petani tebu. Ganjar diajak untuk melihat kualitas tanaman tebu di Dusun Klinter, Desa Pelem, Kertosono. Mantan Gubernur Jawa Tengah itu ikut menyebarkan pupuk ke tanaman tebu bersama para petani.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk