Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Ekonomi & Bisnis Lifestyle Seni & Budaya Opini Khazanah Video

Perjuangan KPPS di Kabupaten Nganjuk Mengawal Pesta Demokrasi

Iqbal Syahroni • Senin, 19 Februari 2024 | 20:57 WIB

 

Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri- Bekerja dari Pagi Sampai Pagi Lagi Di balik ramainya meme KPPS bekerja sehari mendapat upah Rp 1,1 juta untuk anggota dan Rp 1,2 juta untuk ketua KPPS. Ada beban berat yang dipikul kelompok penyelenggara pemungutan suara di hari pencoblosan.

Mereka harus mengorbankan waktu dan tenaga demi terselenggaranya pemilu yang berintegritas. Ini pertama kalinya Ramona harus berpisah dengan anaknya yang baru berusia tiga tahun. Ibu satu anak itu harus merelakan waktunya berpisah sementara dengan buah hatinya demi menjalankan tugasnya sebagai anggota KPPS di Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro. “Ini pengalaman pertama terlibat dalam pesta demokrasi sebagai KPPS. Dan saya harus rela tidak bertemu anak sehari semalam,” aku ibu yang kini menginjak usia 29 tahun itu. Baginya, menjalani tugas sebagai KPPS adalah pengabdian untuk negeri. 

Dia tidak bisa beranjak dari tempat pemungutan suara sebelum semua datanya masuk ke aplikasi Sirekap. Mona -begitu sapaan akrab Ramona- sudah stanby di lokasi TPS sejak pukul 06.00 pada hari pemilihan 14 Februari lalu. 

Sebelum pemilih berbondong-bondong datang mencoblos, dia bersama dengan anggota KPPS lainnya harus menyiapkan semua perlengkapan untuk mencoblos. Mulai dari bilik suara, alat coblos, kotak suara, hingga tinta dan alat tulis kantor lainnya harus siap sebelum warga mulai mencoblos. 

Dari pagi sampai siang, dia dan anggota KPPS lainnya sudah hanya istirahat sebentar untuk makan. Setelah perutnya terisi, Mona bersama timnya siap untuk melanjutkan tugasnya menyelesaikan penghitungan surat suara. Mulai dari pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten, hingga DPD Provinsi Jatim. 

Lima jenis surat suara itu harus dihitung dengan teliti. Tidak boleh ada kesalahan. Agar prosesnya transparan, para saksi melihat penghitungan dari jarak dekat. Jika ada suara yang tidak sesuai ketentuan maka para saksi itulah yang memutuskan sah dan tidaknya. “Ternyata selesainya jam sembilan malam,” kenang Mona. Butuh waktu delapan jam untuk menghitung surat suara yang telah dicoblos itu. Meski penghitungan selesai, Mona dan kawan-kawannya tidak bisa bergegas untuk pulang bertemu dengan buah hatinya.

Hasil penghitungan itu lalu dimasukkan ke data aplikasi Sirekap KPU. Inilah yang membuat lama. Saat input data, jaringannya ngadat. Sehingga sering loading. Kejadian itu memakan waktu yang cukup lama. 

Rasa ngantuk pun hinggap. Dalam kondisi yang kelelahan, Mona dan teman-temannya harus tetap konsentrasi saat menginput data. Pekerjaan itu tuntas pada pukul 03.00 dini hari. “Kami bekerja dari pagi sampai pagi lagi,” begitu kata Mona. Karena itu, jangan heran pada saat input data banyak anggota KPPS tergeletak di TPS. Mereka membaringkan badan untuk sekadar menghilangkan rasa lelah. 

Selama menjalani tugasnya, anak semata wayangnya diasuh sang suami. Di hari kasih sayang itu, Mona dan suaminya berbagi peran. Untungnya, si buah hati tidak rewel. Dia merasa beruntung bisa ikut menyukseskan pemilu 2024.

Patroli 24 Jam sambil Membagikan Vitamin
Unsur pengamanan menjadi kunci penting dalam kelancaran pesta demokrasi. Aparat penegak hukum (APH) yang terdiri dari polisi, tentara, dan bawaslu bahu-membahu menjaga keamanan di seluruh TPS dan kecamatan.

Kapolres Nganjuk AKBP Muhammad menegaskan, anggotanya harus fokus pada tugas pengamanan dan menghindari kegiatan lain di luar jadwal. “Waktunya istirahat, ya istirahat. Jangan ada kegiatan lain. Ini semua agar badan tidak drop,” ungkapnya.

Muhammad juga menekankan pentingnya sinergi antara Polri, TNI, dan pemangku kepentingan lainnya untuk menjaga kondusifitas selama dan setelah pemilu. “Pengamanan tidak berhenti sampai pencoblosan selesai,” imbuhnya. Sebab potensi kerawanan seperti gesekan antar pendukung, tindak kejahatan, dan gangguan terhadap ketertiban umum masih perlu diantisipasi.”
Sebagai bentuk kepedulian, Polres Nganjuk bekerja sama dengan Pemkab Nganjuk untuk membagikan vitamin kepada para pejuang demokrasi, termasuk petugas Bawaslu, Panwascam, KPPS, dan PPS. Ada 12 ribu paket vitamin diserahkan kepada Ketua Bawaslu Nganjuk, Yudha Harnanto, pada Kamis (15/2) lalu. Paket vitamin ini merupakan hasil kolaborasi antara Sidokkes Polres Nganjuk dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nganjuk.

“Tujuannya untuk menjaga kesehatan dan kebugaran petugas Bawaslu yang saat ini masih menyelesaikan tugasnya. Rasa lelah dan tingkat stres mereka cukup tinggi,” ungkap Muhammad.
Yudha menambahkan bahwa pihaknya akan mendistribusikan paket vitamin tersebut kepada Panwascam, PKD, dan seluruh PTPS. “Kami harus menjaga kesehatan dan kebugaran pasca pencoblosan dan penghitungan suara, termasuk saat proses rekapitulasi data nanti,” pungkasnya.

Sirekap Ngadat, Petugas Jadi Mumet
Petugas KPPS sedikit lega. Setelah proses penghitungan di TPS selesai, mereka kini bisa bertemu dengan berkumpul kembali dengan anggota keluarga. Namun tidak dengan anggota yang mendapat tugas input data ke aplikasi Sirekap.

Pekerjaan itu seperti menjadi kerja tambahan. Karena untuk menyelesaikannya tidak bisa dalam waktu yang sama dengan penghitungan suara. “Saya baru selesai menggarap Sirekap Jumat(16/2) sore,” ujar Ramona, anggota KPPS Kelurahan Kapas, Sukomoro.

Pekerjaan itu membutuhkan upaya lebih karena petugas harus jeli dan teliti. Dan pentingnya lagi adalah sabar. Sebab, ketika input data servernya tidak selalu lancar. Lebih sering down. Sehingga kegiatan untuk menginput data sering terganggu. Waktu mengerjakannya pun bertambah.
Dengan adanya tambahan itu, idealnya upah yang diterima juga sepadan. A[alagi anggota KPPS yang diserahkan untuk menyelesaikan Sirekap ini mengurusi double job. Selain membantu panitia saat melakukan penghitungan juga harus input data ke Sirekap. ”Beban pekerjaannya bertambah seharusnya dibayar sepadan,” ungkapnya.

Meskipun demikian, dia mengaku kebutuhan petugas selama bekerja sudah terpenuhi. Mereka mendapatkan makanan, minuman, dan snack selama proses berlangsung. Vitamin juga disediakan untuk menjaga daya tahan tubuh mereka.

Bagi Ramona, puncak lelahnya terjadi saat proses penghitungan suara dan administrasi. Ia harus mengecek ulang data di lokasi dan tidak bisa beristirahat penuh. ”Meski ada sif, itu mungkin hanya untuk istirahat makan, minum, lalu membantu pekerjaan utama,” terangnya.

Namun, yang menurutnya paling berharga adalah momen saat ia bisa kembali ke rumah dan berkumpul dengan keluarga. Gaji yang diterima menjadi bonus setelah perjuangan panjang mereka. ”Alhamdulillah bisa berkumpul kembali. Sekarang sudah waktunya istirahat,” ungkap Ramona sambil tersenyum.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

 

Editor : Redaksi Radar Nganjuk
#demokrasi #kpps #pesta #nganjuk