Sopir mobil penumpang umum (MPU) di Kota Angin sedikit bisa bernapas. Karena sejak bulan April, mereka mendapat bantuan dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Nganjuk. Yaitu berupa subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk mengangkut pelajar Kota Angin. Artinya, pelajar Nganjuk yang naik MPU tidak akan dipungut biaya alias gratis.
“MPU gratis untuk pelajar ini mulai April ini,” ujar Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Nganjuk Tri Wajyu Koentjoro melalui Kepala Bidang (Kabid) Angkutan dan Transportasi Makrus.
Program MPU gratis untuk pelajar tersebut sejatinya sudah pernah ada di Kabupaten Nganjuk. Yaitu sebelum pandemi Covid-19. Namun, sejak pandemi Covid-19 merajalela, program itu dihentikan. Anggaran dialihkan untuk penanganan Covid-19 atau refocusing anggaran.
Setelah berhenti selama tiga tahun, program itu kembali bergulir. Tepatnya mulai Maret lalu. Setelah melalui proses registrasi, MPU untuk mengangkut pelajar di Kota Angin itu mulai beroperasi sejak awal April.
“Kami seleksi para sopir MPU. Tidak semuanya dapat. Hanya yang terdaftar di paguyuban MPU saja yang dapat,” terangnya.Dari puluhan MPU di Kota Angin, baru enam MPU yang sudah mendapat kontrak. Dengan rincian lima MPU jurusan Kecamatan Nganjuk-Sawahan dan satu MPU jurusan Kecamatan Nganjuk-Pace.
“Untuk jurusan Kecamatan Nganjuk-Pace itu juga digunakan untuk mengangkut pelajar disabilitas,” tambahnya.
Untuk subsidi BBM, Makrus mengatakan, jika sopir MPU mendapat Rp 140 ribu per hari. Dengan tugas utamanya yaitu satu kali mengantar dan menjemput pelajar. “Mereka hanya beroperasi Senin sampai Jumat. Sedangkan, upahnya bisa diambil setiap 10 hari sekali,” tandasnya.
Tentu program tersebut adalah upaya dishub untuk membangkitkan MPU di Kota Angin. Bagaimana tidak, sejak beberapa tahun terakhir, MPU di Kota Angin sempat mati suri.Dalam liputan yang dilakukan Jawa Pos Radar Nganjuk pada 2022 lalu, hanya tersisa tiga jurusan MPU di Kota Angin. Yaitu Nganjuk-Kertosono, Nganjuk-Wilangan, dan Nganjuk-Sawahan. “Jadi kami tidak ingin sampai MPU ini mati makanya kami ajak kerja sama,” terangnya.
Baca Juga: Armada Sedikit, Pelajar Harus Berebut MPU Gratis. Begini Tanggapan Dishub Nganjuk
Sementara itu, Toyo, 59, salah satu sopir MPU mengaku senang dengan program dishub untuk menginfus MPU. Paling tidak, program tersebut dapat membuatnya dapat sedikit bernafas lega.
Dalam sehari, dia mendapat subsidi Rp 140 ribu. Uang itu digunakan untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp 50 ribu. Artinya dalam sehari dia bisa mendapat untung bersih sebanyak Rp 90 ribu. Secara matematis, jika dikalikan 20-24 hari kerja, maka Toyo bisa mendapat Rp 1,8 juta sampai Rp 2,16 juta. “Jam kerjanya mulai pukul 06.00 WIB-12.00 WIB. Lebih dari itu tetap bisa narik lagi,” terang pria yang berasal dari Kelurahan Ploso, Kecamatan Nganjuk tersebut.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk