NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Banjir di Kecamatan Pace dan debit air di Dam Tanjung yang bikin waswas warga Kecamatan Nganjuk adalah ancaman setiap hujan deras mengguyur wilayah pegunungan. Karena itu, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Nganjuk berencana merealisasikan pembangunan Bendungan Margopatut di Kecamatan Sawahan. “Bendungan Margopatut ini untuk mencegah banjir di wilayah bawah saat hujan mengguyur pegunungan,” ungkap Kepala Bappeda Adam Muharto.
Saat ini, feasibility study (FS) atau studi kelayakan Bendungan Margopatut masih dalam proses. Rencananya hasil FS akan selesai bulan depan. Adam mengatakan, FS menjadi poin penting dalam pembangunan bendungan. Karena hasil penelitian dalam FS dapat menentukan apakah bendungan layak dibangun di tempat tersebut.
Sejatinya FS sudah pernah dilakukan pada 2008 lalu. Sayangnya, saat itu proyek Bendungan Margopatut batal dilakukan. Alasannya karena pemerintah lebih memilih untuk membangun Bendungan Semantok terlebih dahulu.
Proyek Bendungan Margopatut lalu pernah mencuat kembali sebelum pandemi. Saat itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk hendak kembali melakukan FS yang dianggap kedaluarsa karena sudah lebih dari 10 tahun. Namun sebelum proyek bergulir, pandemi menyerang. “Semoga saja hasil FS ini positif untuk dilakukan pembangunan bendungan,” tambahnya.
Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo dalam kunjungan ke Bendungan Semantok sedikit menyinggung soal proyek strategis nasional (PSN) yang akan dibangun di waktu yang akan datang. Dia juga menyinggung soal anggaran yang masih ditahan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia. Karena Bendungan Margopatut akan menjadi PSN di Kota Angin.
Dody menegaskan, pembangunan PSN akan dilakukan lebih selektif. Salah satunya tentang manfaat yang ditimbulkan kepada masyarakat luas, termasuk Bendungan Margopatut. “Kami akan lebih selektif lagi dalam pembangunan proyek,” tambahnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Pemkab Nganjuk mau menghidupkan proyek Bendungan Margopatut. Bendungan yang sempat digagas pada 2008 silam itu dipercaya dapat mengatasi banjir yang terjadi di Kecamatan Nganjuk dan sekitarnya.
Tidak hanya mengatasi banjir, bendungan tersebut juga akan berfokus pada sektor pariwisata. Selain itu bendungan akan difungsikan sebagai irigasi persawahan. Bahkan jika lancar, pemkab berencana membuat pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di bendungan tersebut.
Bendungan tersebut diklaim akan lebih indah dibanding Bendungan Semantok. Salah satunya dari ketinggian bendungan yang bisa mencapai 100 meter. Dengan jumlah air yang dapat dibendung mencapai 30 juta meter kubik.
Saat ini pemkab tengah fokus mengerjakan feasibility study (FS) atau studi kelayakan. Proyek lelang untuk FS sudah rampung dilakukan. Dari pagu yang mencapai Rp 4 miliar, lelang dimenangkan dengan nilai Rp 3,58 miliar. Pemenangnya adalah PT WECON dari Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung. (wib/tyo)
Editor : Redaksi Radar Nganjuk