NGANJUK, JP Radar Nganjuk– Pemkab Nganjuk mengikuti Penilaian Kinerja Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (PPPS) Kabupaten/Kota Tahun 2025 pada Selasa (10/5). Kegiatan tersebut digelar Pemprov Jawa Timur secara daring.
Kegiatan bertempat di Ruang Rapat Peringgitan Pendapa K.R.T Sosrokoesoemo Kabupaten Nganjuk dipimpin langsung oleh Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi. Hadir pula dalam kegiatan itu jajaran kepala OPD di lingkup Pemkab Nganjuk.
Bupati Marhaen mengatakan, Pemerintah Kabupaten Nganjuk behasil menurunkan angka prevalensi stunting sebesar 2,9 persen pada tahun 2023. “Prevalensi stunting di Kabupaten Nganjuk berhasil diturunkan dari 20% pada tahun 2022 menjadi 17,1% pada tahun 2023 berdasarkan SSGI/SKI,” paparnya.
Baca Juga: Gaspol! Bupati Nganjuk Mutasi dan Promosi Ratusan Kepala Sekolah dan Pengawas Pendidikan
Selain itu, Pemkab Nganjuk juga berhasil menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Pada tahun 2023, jumlah kasus kematian ibu berada di angka 16 kasus, sedangkan tahun 2024 berada di angka 10 kasus. “Jumlah kematian bayi menurun dari 132 menjadi 113 dalam periode yang sama,” ujar Kang Marhaen.
Dalam paparannya, Kang Marhaen menjelaskan terkait aksi delapan konvergensi percepatan penurunan stunting, optimalisasi TPPS kecamatan, dukungan private sector dan inovasi daerah. Diantaranya, pengembangan dan peningkatan
Bina Keluarga Balita Melalui Kelompok Kegiatan BKB dan Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) Untuk peningkatan Pola Pengasuhan dan keterampilan tumbuh kembang balita. Kemudian, optimalisasi Kinerja dan Revitalisasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di semua tingkatan.
Selanjutnya, intervensi spesifik dan sensitif dilakukan dengan berbagai inovasi. “Sosialisasi dan penggerakan sasaran ke posyandu bekerja sama dengan lintas sektor dan program dan melaksanaan monitoring dan evaluasi secara rutin dilakukan,” ungkap Kang Marhaen. (kominfo/nov/ik3/tyo)
Editor : Jauhar Yohanis