Pemerintah Desa (Pemdes) Pakuncen di Kecamatan Patianrowo harus gigit jari. Karena mereka menjadi pemdes yang mendapat dana desa (DD) paling kecil di tahun ini. Yaitu, hanya Rp 207 juta.
Hanya Mendapat Rp 207 Juta di 2026
NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Pemerintah Desa (Pemdes) Pakuncen di Kecamatan Patianrowo harus gigit jari. Karena mereka menjadi pemdes yang mendapat dana desa (DD) paling kecil di tahun ini. Yaitu, hanya Rp 207 juta.
Kepala Dinas Pemberdayaan Manusia dan Desa (PMD) Kabupaten Nganjuk Sopingi mengatakan, dari 264 desa yang mendapat DD, Desa Pakuncen menjadi yang paling kecil mendapat DD.
Sopingi menjelaskan, anggaran DD di tiap desa sangat bervariasi. Tergantung dengan pajak daerah yang disetorkan ke pemerintah pusat. Sedangkan di Nganjuk, rentan anggaran DD untuk masing-masing desa yaitu sekitar Rp 207 juta hingga Rp 300 juta.
Desa yang paling sedikit menerima DD adalah Desa Pakuncen. Mereka hanya mendapat Rp 207 juta. Jumlah tersebut diketahui sangat kontras dibanding dengan anggaran DD yang dibagikan pada tahun lalu. Karena di tahun 2025, Desa Pakuncen masih mendapat DD hingga Rp 841 juta. Artinya ada pengurangan hingga Rp 634 juta.
Sedangkan pemdes kedua terendah yang mendapat DD adalah Desa Sumbermiri di Kecamatan Lengkong dan Desa Dlururejo yang ada di Kecamatan Jatikalen. Untuk Desa Sumbermiri, di tahun ini, mereka mendapat DD yaitu Rp 242 juta. Padahal, di tahun lalu, Pemdes Sumbermiri mendapat DD mencapai Rp 639 juta. Lalu Desa Dlururejo di tahun ini hanya mendapat DD senilai Rp 243 juta. Sedangkan di tahun lalu mereka masih mendapat DD sebanyak Rp 690 juta.
Sopingi menjelaskan, di Kabupaten Nganjuk, DD paling besar adalah Rp 373 juta. Totalnya ada puluhan desa yang mendapat DD senilai Rp 373 juta. Seperti Desa Jekek di Kecamatan Baron; Desa Campur di Kecamatan Gondang; Desa Bajulan di Kecamatan Loceret; hingga Desa Blongko di Kecamatan Ngetos.
Seperti diberitakan sebelumnya, di tahun ini, ada pengurangan pada DD di Kabupaten Nganjuk. Nilainya sangat besar. Di tahun lalu anggaran untuk DD mencapai Rp 266,06 miliar. Sedangkan di tahun ini jumlahnya hanya Rp 88,51 miliar atau anjlok Rp 177,5 miliar. (wib/tyo)