Warga Nganjuk Menanti 'Napas' KA Lokal di Lima Stasiun
rekian• Kamis, 5 Maret 2026 | 06:06 WIB
TRANSPORTASI: Kereta Api (KA) yang melintas di stasiun Nganjuk.
NGANJUK, Radar Nganjuk– Deru mesin Kereta Api (KA) lokal setiap harinya menjadi denyut nadi bagi para pekerja di wilayah Nganjuk dan sekitarnya. Namun, ada satu pemandangan yang kontras. Hingga saat ini, KA lokal favorit para komuter masih "setia" menjadikan Stasiun Kertosono sebagai titik tumpu utama, sementara stasiun-stasiun lain masih sebatas menjadi saksi bisu perlintasan.
Sejauh ini, fasilitas transportasi berbasis rel untuk rute lokal memang hanya terpusat di Stasiun Kertosono. Bukan tanpa alasan, stasiun ini menyandang predikat stasiun besar dengan fasilitas cukup komplet bertipe B. Infrastrukturnya yang mumpuni membuatnya menjadi satu-satunya titik singgah paling representatif bagi Commuter Line KA lokal yang menghubungkan jalur melingkar Surabaya-Blitar.
Namun, kondisi ini memicu harapan besar bagi warga di titik lain. Pasalnya, Kabupaten Nganjuk sejatinya memiliki sederet stasiun yang secara geografis sangat strategis. Sebut saja Stasiun Wilangan, Bagor, Sukomoro, dan Baron. Sayangnya, saat ini keempat stasiun tersebut belum melayani naik-turun penumpang dan lebih hanya berfungsi sebagai titik pantau teknis untuk operasional perjalanan kereta api.
"Stasiun Kertosono memang lengkap, tapi warga di wilayah barat Nganjuk seperti Bagor atau Wilangan tentu berharap ada akses yang lebih dekat tanpa harus ke Kertosono atau ke Stasiun Nganjuk Kota," ujar Tina warga Kecamatan Tanjunganom pengguna jasa kereta api.
Selain empat stasiun pantau tersebut, perhatian juga tertuju pada Stasiun Nganjuk. Meski selama ini sudah berfungsi aktif melayani kereta api jarak jauh, optimalisasi untuk layanan kereta lokal atau komuter dianggap akan sangat membantu mobilitas pekerja harian.
Reaktivasi atau pengaktifan kembali layanan penumpang di lima stasiun (Wilangan, Bagor, Sukomoro, Baron, dan Nganjuk) untuk kereta lokal menjadi dambaan. Jika hal ini terealisasi, KA Dhoho tidak hanya akan melintasi Nganjuk, tetapi benar-benar "menghidupkan" ekonomi di sepanjang rel yang membentang dari timur ke barat kota angin ini.
Hingga kini, publik masih menanti langkah konkret dari pihak operator dan pemangku kebijakan. Mungkinkah stasiun-stasiun kecil ini akan kembali "bernapas" dan melayani senyum para pekerja setiap pagi? Kita tunggu saja.