NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Di tengah modernisasi industri, masih ada tradisi-tradisi lokal yang tetap dilestarikan. Hal itu sebagai bagian dari kearifan budaya.
Salah satunya adalah tradisi Manten Tebu. Tradisi ini erat kaitannya dengan dimulainya musim giling tebu di pabrik-pabrik gula, khususnya di Pulau Jawa.
Meski bersifat simbolik, Manten Tebu mencerminkan harapan, spiritualitas, dan nilai-nilai budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat agraris.
Manten Tebu sendiri berasal dari kata ‘manten’ atau pengantin dan ‘tebu’. Secara harfiah, tradisi ini memposisikan batang tebu layaknya sepasang pengantin.
Sepasang batang tebu pilihan, biasanya yang paling bagus dan sehat, dipilih untuk dihias, dan diarak dalam sebuah prosesi. Prosesi tersebut mirip dengan prosesi pernikahan adat Jawa.
Tujuan utama dari tradisi ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas tibanya musim giling. Serta harapan akan kelancaran produksi gula.
Di balik ritual ini, tersimpan doa. Agar pabrik mendapatkan hasil giling yang melimpah dan terhindar dari gangguan teknis maupun musibah.
Prosesi manten tebu melalui beberapa rangkaian. Antara lain:
1. Pemilihan Tebu
Sepasang batang tebu terbaik dipilih dari kebun, yang melambangkan simbol kesuburan dan kemakmuran.
2. Rias Pengantin
Batang-batang tebu tersebut kemudian dirias seperti pengantin Jawa. Seperti janur perlambang acara manten. Kadang, bahkan diberi nama seperti ‘Manten Kakung’ dan ‘Manten Putri’.
3. Kirab atau Arak-Arakan
Batang tebu tersebut diarak dari kebun menuju pabrik gula. Prosesi ini biasanya diiringi kesenian tradisional seperti gamelan, reog, atau barongan, serta diikuti oleh masyarakat dan pekerja pabrik.
4. Ritual dan Doa
Sesampainya di pabrik, dilakukan upacara doa bersama. Tebu kemudian secara simbolis dimasukkan ke dalam gilingan pertama sebagai tanda dimulainya musim produksi.
Tradisi Manten Tebu bukan hanya sekadar ritual. Tetapi juga menjadi ajang untuk mempererat hubungan antara petani, pekerja pabrik, dan masyarakat sekitar.
Ini merupakan wujud gotong royong dan kebersamaan dalam menyambut musim kerja yang penting bagi ekonomi lokal.
Meski teknologi pengolahan tebu semakin canggih, tradisi Manten Tebu tetap dipertahankan di banyak pabrik gula sebagai warisan budaya.
Bahkan, beberapa pabrik menjadikannya bagian dari daya tarik wisata industri dan edukasi budaya, menarik minat wisatawan untuk mengenal lebih dekat proses produksi gula dan tradisi agraris Jawa.
Di Nganjuk, prosesi Manten Tebu masih bisa dilihat hingga saat ini.
Adalah Pabrik Gula (PG) Lestari, yang berada di Kecamatan Patianrowo yang masih mempertahankan tradisi tersebut.
Sebagai penanda memasuki musim giling, pabrik gula satu-satunya di Nganjuk itu selalu menyelenggarakan berbagai acara yang melibatkan masyarakat luas.
Mulai pasar rakyat, pagelaran wayang kulit, hingga Salawatan.
Puncaknya adalah Manten Tebu sekaligus tasyakuran buka giling.
Berbagai rangkaian kegiatan tersebut selalu menyedot animo masyarakat, terutama yang berada di sekitar pabrik.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira