JP Radar Nganjuk- Tari Beskalan Putri menjadi kesenian tradisional khas Malang, Jawa Timur tertua. Seni ini berkembang sekitar tahun 1930 bersamaan dengan Ludruk yang awalnya ditarikan oleh laki-laki berkostum perempuan.
Biasanya ditarikan dalam upacara sakral, terutama untuk kesuburan tanah atau ritus tanah.
Kata ‘Beskalan’ berasal dari kata ‘Bakalan’ yang saat itu dipertunjukkan di pinggir jalan seperti pengamen.
Tarian tertua di Malang ini bermula sekitar tahun 1920-an. Pada masa itu, ada penari Beskalan legendaris dan terkenal dari Desa Ngadirekso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang bernama Miskayah.
Namun pada awalnya, nama aslinya adalah Sukanti. Kala itu dia bekerja sebagai penari jalanan atau Tandak Andong. Di usia belia dirinya mendadak sakit sehingga tidak dapat menari.
Saat beristirahat, Sukanti bermimpi didatangi Proboretno, seorang putri Kerajaan Mataram, yang sedang mencari kekasihnya bernama Baswara.
Dalam mimpi, Proboretno mengajak Sukanti ikut bersamanya mencari Baswara. Proboretno berjanji akan mengajarkan menari dan menyembuhkan sakitnya.
Sukanti pun terbangun dari mimpinya dalam keadaan sembuh dan langsung menari. Dia meminta untuk mengiringi tariannya dengan kendang. Setelah sembuh, Sukanti mengganti namanya menjadi Miskayah.
Sejak itu tarian yang dibawakan Miskayah disebut sebagai Tari Beskalan Putri. Hingga saat ini tarian Beskalan Putri difungsikan sebagai tari ritual untuk meminta kesuburan tanah yang bernama ritus tanah.
Ritus tanah biasanya dilakukan ketika baru membuka lahan atau untuk mendirikan bangunan yang ditujukan sebagai bentuk penghormatan kepada tanah yang memberikan keberuntungan.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira