Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Tari Bajul Mahambara Berkisah tentang Buaya yang Antar Jaka Tingkir Susuri Bengawan Solo

Endro Purwito • Rabu, 16 April 2025 | 23:45 WIB
Tari Bajul Mahambara Berkisah tentang Buaya yang Antar Jaka Tingkir Susuri Bengawan Solo
Tari Bajul Mahambara Berkisah tentang Buaya yang Antar Jaka Tingkir Susuri Bengawan Solo

JP Radar Nganjuk- Warga Kabupaten Sragen, Jawa Timur memiliki tarian khas yang dikenal dengan nama Tari Bajul Mahambara. Kesenian tradisional ini terinspirasi dari cerita perjalanan Jaka Tingkir menuju Demak Bintoro. Perjalanan tersebut bertujuan untuk mengabdikan diri kepada negaranya.

Gerakan tarinya didominasi oleh tarian yang menggambarkan buaya sedang menyusuri Bengawan Solo. Gerakan ini berupa komposisi dari gerakan yang dilakukan oleh prajurit yang menggambarkan simbol bahaya.

Jaka Tingkir merupakan sosok ksatria yang berbudi luhur serta tidak pilih kasih dalam pertemanan. Hal ini membuatnya memiliki banyak teman.

Termasuk hewan sekalipun. Itu seperti, Jalu Mampang, seekor buaya yang menjadi salah satu teman Jaka Tingkir.

Jalu Mampang merupakan seekor buaya yang sakti (Mahambara) dengan ikhlas mengantarkan Jaka Tingkir menuju Demak Bintoro dengan segala rasa setia dan hormat.

Tari Bajul Mahambara juga terinspirasi dari temuan fosil-fosil buaya pada situs purbakala Sangiran yang direncanakan untuk menjadi ikon wisata Kabupaten Sragen.

Bentuk Pertunjukan Tari Bajul Mahambara

Dilansir dari buku yang ditulis oleh M Jazuli dan Lesa Paranti (2018) menjelaskan, bahwasanya tarian ini dibawakan secara berkelompok. Filosofi tari diadaptasi dari cerita perjalanan Jaka Tingkir menuju Demak Bintoro.

Dalam perjalananya Jaka Tingkir menuju Demak dengan menaiki gethek (rakit) untuk menyusuri sepanjang sungai Bengawan Solo.

Sesampainya di dusun Banaran, Jaka Tingkir terpikat pesona gadis ayu yang merupakan anak dari Bayan Banaran. Karena terpesona akan paras cantiknya Jaka Tingkir pun mengejar gadis itu sampai ke rumah Bayan.

Sesampainya di sana, Jaka Tingkir disekap oleh 40 pemuda. Mereka memaksanya agar menikahinya.

Jaka Tingkir pun memenuhi permintaan para pemuda tersebut. Setelah menikahi gadis desa setempat, Jaka Tingkir mengaku bahwa dia adalah putra dari Ki Ageng Tingkir dan ingin pergi ke kerajaan Demak.

Mengetahui hal itu, 40 pemuda tadi pun mengikutinya hingga masuk ke dalam kerajaan Demak. Di sana mereka diangkat menjadi wiratamtama.

Sesampainya di kerajaan Demak, Jaka Tingkir diberi nasehat oleh Ki Gede agar dapat memikat hati sultan, yaitu dengan cara membunuh kerbau yang mengamuk di alun-alun Demak.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#buaya #JAKA TINGKIR #kisah #bengawan #bajul #radar nganjuk #tari #solo #KOTA ANGIN