Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Filosofi Tari Dongkrek, Jadi Tolak Bala atas Pagebluk atau Wabah Penyakit

Endro Purwito • Selasa, 6 Mei 2025 | 04:45 WIB
Tari Dongkrek Jadi Tolak Bala atas Pagebluk atau Wabah Penyakit
Tari Dongkrek Jadi Tolak Bala atas Pagebluk atau Wabah Penyakit

JP Radar Nganjuk- Meski terkepung kesenian modern, tari dongkrek khas Kabupaten Madiun, Jawa Timur berusaha tetap bertahan. Seni warisan leluhur sejak 1867 ini berawal dan berpusat di Mejayan, Caruban, Madiun.

Yang menarik, tari ini mengisahkan tentang pengusiran makhluk halus yang dipercaya sebagai penyebab pagebluk atau wabah penyakit. Kesenian Dongkrek merupakan perpaduan seni musik tradisional.

Para penarinya menggunakan tiga jenis topeng. Yakni topeng Mbah Palang (orang tua), topeng putri (Roro Ayu), dan topeng genderuwo (Butho).

Kesenian Dongkrek dipopulerkan oleh Raden Ngabehi Lo Prawirodipuro. Saat itu ia menjabat demang atau kepala desa. Arti nama dongkrek sejatinya berasal dari suara musik pengiringnya.

Itu dari suara alat-alat musik yang digunakan, berupa bunyi “Dung” yang berasal dari beduk atau gendang.

Sedangkan “Krek” yang berasal dari bunyian berupa kayu berbentuk persegi, pada salah satu sisinya terdapat tangkai kayu yang bergerigi sehingga saat digesek akan berbunyi “Krek”.

Namun dalam perkembangannya juga digunakan alat musik lain berupa gong, kenong, kentongan, kendang dan gong berry.

Menurut cerita masyarakat, kesenian dongkrek muncul sebagai tolak bala atas pagebluk atau wabah penyakit yang menelan banyak korban. Kala itu, banyak warga Mejayan yang mendadak sakit dan meninggal.

Melihat situasi tersebut, Raden Prawirodipuro memikirkan solusi untuk mengatasi pagebluk.

Dia lantas bermeditasi dan bertapa di Gunung Kidul Caruban. Di sana ia mendapat wangsit untuk membuat kesenian yang bisa mengusir wabah tersebut.

Konon wangsit tersebut menggambarkan para punggawa kerajaan roh halus menyerang penduduk Mejayan dan dapat diusir dengan menggiring keluar desa.

Maka dibuatlah tarian yang menggambarkan fragmentasi pengusiran roh halus pembawa pagebluk itu.

Baca Juga: Ternyata Empat Motif Batik Khas Nganjuk Ini Laris Manis Diburu Pembeli

Adegan tari dimulai saat musik tradisional pengiring dongkrek ditabuh. Kemudian, penari bertopeng makhluk berwajah seram disebut Banaspati muncul.

Tangan dan kuku-kukunya tajam dan panjang. Wajah makhluk tersebut berwarna merah, hijau, hitam dan kuning.

Gerakan makhluk berwajah menyeramkan ini liar mengikuti musik pengiringnya. Kemudian, duduk bersila berbentuk lingkaran.

Lalu datang tiga gadis cantik saling bercanda seolah tak mengetahui ada makhluk seram di dekatnya. Mereka ketakutan ketika mahluk seram menampakkan wujudnya.

Banaspati berusaha menyerang, hingga akhirnya ketiga gadis itu masuk di dalam lingkaran.

Saat ketiga gadis kehabisan tenaga,tiba-tiba muncul pria tua berjenggot membawa tongkat. Ia menyelamatkan gadis-gadis itu.

Pada masa penjajahan, Belanda sempat melarang kesenian ini pentas di panggung terbuka. Pun ketika penjajah Jepang berkuasa, semua tradisi budaya lokal dihentikan, termasuk dongkrek.

Kesenian ini dibangkitkan kembali oleh Provinsi Jawa Timur dan Dinas Dikbud Kabupaten Madiun 1973.

Saat itu, Pemerintah setempat berusaha merekonstruksi sejarah dan pakem kesenian dongkrek melalui penelusuran dan studi dokumentasi.

Sayangnya, kini seni tradisi itu minim peminat. Sebab masyarakat lebih tertarik kesenian modern. Hanya generasi tua yang menjadi pelaku utama dongkrek.

Editor : Elna Malika
#caruban #gong #modern #warisan leluhur #radar nganjuk berita hari ini #tari #kendang #kesenian #kenong #jawa timur #dongkrek #pakem #banaspati #madiun