Nganjuk, JP Radar Nganjuk - Mungkin Kita Perlu Waktu sebuah film Indonesia bertema keluarga yang menyentuh hati, menggali isu kehilangan, komunikasi, dan perjalanan emosional dalam menghadapi duka.
Disutradarai oleh Teddy Soeriaatmadja, film ini menampilkan kisah yang dalam dan penuh makna tentang bagaimana sebuah keluarga berusaha memulihkan diri setelah tragedi yang mengubah kehidupan mereka selamanya.
Diproduksi oleh Kathanika Films, Adhya Pictures, dan Karuna Pictures, film ini telah menarik perhatian sejak penayangannya di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2024, dan akhirnya siap ditayangkan di layar bioskop pada 15 Mei 2025.
Dengan jajaran aktor berbakat seperti Lukman Sardi, Sha Ine Febriyanti, Bima Azriel, Tissa Biani, dan Naura Hakim, film ini menjanjikan sebuah perjalanan emosional yang akan meninggalkan kesan mendalam bagi para penonton.
Kisah dalam film ini berpusat pada keluarga yang awalnya terlihat harmonis, tetapi berubah drastis setelah kehilangan anak sulung mereka, Sarah (Naura Hakim), yang meninggal secara tragis.
Kepergian Sarah meninggalkan luka mendalam bagi ayahnya, Restu (Lukman Sardi), ibunya, Kasih (Sha Ine Febriyanti), dan adiknya, Ombak (Bima Azriel). Setelah tragedi tersebut, hubungan di antara mereka semakin renggang. Rumah yang dulu terasa hangat kini dipenuhi keheningan dan kesedihan yang tak terucapkan.
Ombak, sebagai anak bungsu, merasakan dampak kehilangan dengan cara yang berbeda. Ia tidak hanya kehilangan sosok kakak yang selama ini menjadi teman terdekatnya, tetapi juga kehilangan kehangatan keluarganya yang mulai berantakan.
Meskipun mencoba bersikap normal, ia menyimpan perasaan bersalah yang sulit diungkapkan. Dalam usahanya mencari kebahagiaan, ia bertemu dengan Aleiqa, teman sekolahnya yang membawa semacam harapan baru dalam hidupnya.
Sementara itu, Kasih, sang ibu, memilih pergi umroh sebagai cara untuk mengatasi kesedihannya, meninggalkan Restu dan Ombak dalam diam yang semakin memisahkan mereka. Restu, di sisi lain, berusaha mencari cara untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran emosional dengan meminta bantuan psikolog, namun usaha ini tidak cukup jika keluarganya belum siap membuka diri.
Film ini secara perlahan menunjukkan bahwa proses berduka tidak dapat diselesaikan dengan cepat kadang, yang kita butuhkan bukan solusi instan, tetapi waktu, kesabaran, dan keinginan untuk saling memahami.
Film Mungkin Kita Perlu Waktu menghadirkan eksplorasi mendalam tentang cara individu dan keluarga menghadapi kesedihan dan trauma. Lewat kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, film ini mengajak penonton untuk memahami bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menangani kehilangan.
Ada yang memilih untuk menghindari percakapan, ada yang mencari pelarian, dan ada yang mencoba menyelesaikan semuanya sendirian. Selain itu, film ini menyoroti pentingnya komunikasi dalam keluarga, terutama dalam masa-masa sulit. Kadang, kita terlalu sibuk mengatasi kesedihan sendiri hingga lupa bahwa orang-orang di sekitar kita juga merasakan hal yang sama.
Lebih jauh lagi, film ini juga menyentuh isu kesehatan mental, khususnya dalam konteks remaja. Karakter Ombak menjadi representasi dari banyak remaja yang mengalami tekanan emosional tetapi tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan perasaan mereka. Melalui sosoknya, film ini ingin mengingatkan bahwa kesedihan yang terpendam dapat berdampak besar pada psikologi seseorang, dan penting bagi kita untuk memiliki lingkungan yang mendukung agar tidak merasa sendirian.
Sutradara Teddy Soeriaatmadja, yang dikenal dengan pendekatan sinematiknya yang halus dan puitis, membangun film ini dengan nuansa yang sangat emosional namun tetap terasa realistik.
Penulis: Laila Karima
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira