JP Radar Nganjuk - Pulau Madura punya cerita rakyat tentang Joko Tole. Kisah yang kaya nilai-nilai budaya dan sejarah ini tak hanya populer di kalangan masyarakat Madura, tetapi juga dikenal di seluruh Nusantara.
Cerita Joko Tole tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai media pendidikan yang sarat nilai-nilai moral.
Melalui cerita ini, kita dapat melihat bagaimana nilai-nilai keberanian, kecerdasan, dan keadilan menjadi bagian penting dari warisan budaya Madura yang masih relevan hingga hari ini.
Baca Juga: Tari Miyang Khas Tuban, Kreasi Baru yang Menjadi Identitas Budaya
Dalam konteks budaya Madura, kisah ini mengajarkan pentingnya keberanian dan kesetiaan terhadap tugas.
Joko Tole, yang dikenal sebagai sosok pahlawan dalam cerita ini, merupakan simbol keteguhan hati yang mampu menghadapi berbagai tantangan dengan kebijaksanaan.
Hal ini mencerminkan karakter masyarakat Madura yang dikenal gigih dan pantang menyerah.
Baca Juga: Tari Boran Terinspirasi dari Perjuangan Para Penjual Nasi yang Diwadahi Wakul.
Jokotole lahir dari Raden Ayu Potre Koneng, cicit dari Pangeran Bukabu sebagai hasil perkawinan batin (melalui mimpi) dengan Adipoday (Raja Sumenep ke-12).
Namun banyak orang yang tidak percaya. Sebab, seolah-olah terkesan sebagai kehamilan di luar nikah.
Akibatnya menimbulkan kemarahan orang tuanya.Bahkan Potre Koneng akan dihukum mati.
Konon sejak kehamilannya, banyak terjadi hal-hal yang aneh dan di luar dugaan. Merasa takut kepada orang tuanya, kelahiran bayi Potre Koneng langsung diletakkan di hutan oleh dayangnya.
Bayi tersebut lantas ditemukan Empu Kelleng. Kemudian disusui oleh kerbau miliknya.
Peristiwa kelahiran Jokotole, terulang lagi oleh adiknya yaitu Jokowedi.
Kesaktian Jokotole mulai terlihat pada usia 6 tahun lebih, seperti membuat perkakas tanpa bantuan alat apapun hanya dari badannya sendiri, yang hasilnya lebih bagus ketimbang ayah angkatnya sendiri.
Baca Juga: Cerita Petani Tangkap Celeng Terdapat dalam Tari Gandhong yang Terbagi Empat Fragmen
Lewat kesaktiannya itulah Joko Tole membantu para pekerja pandai besi yang kelelahan dan sakit akibat kepanasan.
Termasuk ayah angkatnya dalam pengelasan membuat pintu gerbang raksasa atas kehendak Raja Majapahit Brawijaya VII.
Caranya, Joko Tole membakar dirinya hingga kemudian menjadi arang. Lewat pusarnya keluar cairan putih.
Cairan putih tersebut untuk keperluan pengelasan pintu raksasa. Dan, akhirnya Joko Tole diberi hadiah emas berikut uang logam seberat badannya.
Baca Juga: Filosofi Tari Dongkrek, Jadi Tolak Bala atas Pagebluk atau Wabah Penyakit
Akhirnya ia mengabdi di kerajaan Majapahit untuk beberapa lama. Banyak kesuksesan yang ia raih selama mengabdi di kerajaan tersebut yang sekaligus menjadi mantu dari Patih Muda Majapahit.
Tibanya dari Sumenep ia bersama istrinya bernama Dewi Ratnadi bersua ke Keraton yang akhirnya bertemu ibunya, RA. Potre Koneng.
Joko Tole kemudian dilantik menjadi Raja Sumenep dengan Gelar Pangeran Secodiningrat III.
Ketika menjadi raja ia terlibat pertempuran besar melawan panglima perang dari negeri China yaitu Laksamana Zheng He.
Raja Jokotole dengan kesaktiannya menghancurkan kesaktian Zheng He. Kekuasaannya berakhir pada 1460. Kemudian digantikan Arya Wigananda, putra pertama Jokotole
Secara edukatif, cerita Joko Tole juga memperkenalkan masyarakat luas pada adat dan tradisi Madura.
Baca Juga: Cara Mengambil Kembali Anak yang “Diculik” Wewe Gombel
Melalui kisah ini, generasi muda dapat mempelajari pentingnya menjaga kehormatan diri dan keluarga, serta memahami nilai-nilai gotong royong yang menjadi bagian integral dari kehidupan sosial masyarakat Madura.
Editor : Miko