JP Radar Nganjuk - Kabupaten Nganjuk tak hanya dikenal sebagai kota angin atau lumbung pangan Jawa Timur. Di balik hamparan sawah dan bukit-bukit Wilis, tersimpan jejak sejarah panjang yang menghubungkan daerah ini dengan deretan kerajaan besar Nusantara.
Nama Nganjuk sendiri diyakini berasal dari istilah Anjuk Ladang, sebuah wilayah yang disebut dalam Prasasti Candi Lor bertahun 937 Masehi.
Prasasti yang ditemukan di Desa Candi, Kecamatan Nganjuk itu mencatat bahwa Anjuk Ladang pernah menjadi desa perdikan wilayah bebas pajak sebagai bentuk penghargaan dari Raja Mpu Sindok dari Kerajaan Medang (Mataram Kuno) atas bantuan rakyat setempat dalam peperangan.
“Ini menandakan bahwa wilayah Nganjuk sudah punya peran penting sejak abad ke-10,” kata seorang sejarawan lokal yang kerap meneliti prasasti dan situs arkeologi di kawasan ini.
Memasuki abad ke-11, kejayaan beralih pada Kerajaan Kediri. Letaknya yang dekat menjadikan Nganjuk bagian dari kekuasaan kerajaan besar ini.
Sejumlah arca, yoni, serta struktur batu di beberapa desa menjadi bukti pengaruh kuat budaya Hindu di masa itu.
Tak berhenti di sana, Kerajaan Majapahit yang bangkit pada abad ke-13 juga meninggalkan pengaruh signifikan di tanah Nganjuk.
Wilayah ini masuk dalam cakupan kekuasaan Majapahit dan dipercaya menjadi salah satu jalur distribusi hasil bumi menuju pusat kerajaan di Trowulan.
Sisa-sisa peninggalan seperti fragmen candi dan batu bata kuno masih bisa ditemukan di beberapa titik.
Masuk ke era Islam, Nganjuk menjadi bagian dari wilayah Kesultanan Mataram Islam. Perubahan besar terjadi, termasuk dalam pola pemerintahan dan budaya masyarakat.
Penyebaran agama Islam mulai marak, ditandai dengan berdirinya masjid-masjid tua serta tradisi keagamaan yang masih bertahan hingga kini.
Namun, sejarah Nganjuk tak berhenti di situ. Awal abad ke-19, daerah ini masuk dalam wilayah Hindia Belanda dan menjadi bagian dari struktur administratif kolonial.
Pemerintah kolonial Belanda membentuk Kabupaten Nganjuk secara resmi dan menjadikannya sentra hasil bumi seperti tembakau, padi, dan kayu jati.
Kini, sebagian jejak masa lalu itu bisa disaksikan dalam bentuk situs purbakala, nama-nama desa bersejarah, hingga kebudayaan lokal yang masih lestari.
Anjuk Ladang bukan sekadar cerita masa lalu, tapi juga identitas yang menegaskan bahwa Nganjuk adalah bagian penting dari peradaban Nusantara.
Editor : Jauhar Yohanis