JP Radar Nganjuk – “Icarus has fallen.” Kalimat ini mungkin terdengar familiar bagi sebagian orang, terutama penggemar musik atau pecinta cerita klasik.
Ungkapan “Icarus has fallen” berakar dari mitologi Yunani kuno.
Icarus adalah putra Daedalus, seorang ahli pandai besi yang cerdik.
Dalam kisahnya, Daedalus membuat sayap dari bulu dan lilin agar ia dan Icarus bisa terbang dan melarikan diri dari penjara di pulau Kreta.
Namun, nasib berkata lain. Icarus yang terlalu berani dan gembira terbang terlalu dekat dengan matahari.
Lilin pada sayapnya meleleh, dan ia pun terjatuh ke laut. Dari situlah makna harfiah dari “Icarus has fallen” tercipta.
Cerita ini pertama kali dituliskan oleh penyair Romawi, Ovid, dalam karya terkenalnya, Metamorphoses.
Sejak itu, kisah Icarus menjadi simbol klasik bagi mereka yang ambisinya melampaui batas, hingga berujung pada kejatuhan.
Tidak hanya di buku cerita atau mitologi, ungkapan ini juga merambah ke dunia modern.
Misalnya, album solo Zayn Malik berjudul Icarus Falls yang dirilis pada 2018.
Zayn memakai filosofi ini untuk menggambarkan perjalanan karier dan kehidupannya seperti perjuangan, kejatuhan, dan belajar dari ambisi yang terkadang bisa memakan diri sendiri.
Selain itu, dalam puisi dan karya sastra lain, “Icarus has fallen” sering dipakai untuk menggambarkan kisah tragis dari mereka yang terlalu tinggi menggapai mimpi, hingga akhirnya terjatuh.
Jadi, lebih dari sekadar kata-kata keren, “Icarus has fallen” adalah pengingat abadi bahwa ambisi harus diimbangi dengan kewaspadaan dan kebijaksanaan.
Karena terlalu tinggi terbang, bisa-bisa kita malah terjatuh.
Penulis: Effa Desiana Hidayah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira