JP Radar Nganjuk– Istilah "narsis" yang sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlalu mencintai dirinya sendiri ternyata berasal dari mitologi Yunani Kuno.
Sosok legendaris bernama Narcissus menjadi asal mula munculnya istilah tersebut, yang kini digunakan dalam ilmu psikologi modern.
Narcissus dikenal sebagai pemuda tampan dari Thespiae, anak dari dewa sungai Cephissus dan nimfa Liriope.
Parasnya yang memikat membuat banyak wanita jatuh hati, namun ia terkenal karena menolak cinta siapa pun, termasuk nimfa bernama Echo.
Konon, peramal buta Tiresias pernah meramalkan bahwa Narcissus akan hidup panjang asalkan tidak pernah melihat wajahnya sendiri.
Namun, takdir berkata lain. Setelah menolak banyak cinta, para dewa menjatuhkan hukuman kepadanya.
Suatu hari, saat sedang minum di tepi danau, Narcissus melihat bayangannya sendiri di permukaan air dan langsung jatuh cinta.
Ironisnya, ia tidak sadar bahwa yang ia cintai adalah refleksi dirinya.
Ia terus menatap bayangan itu tanpa henti, hingga akhirnya meninggal karena tidak mampu menjangkau cintanya sendiri.
Di tempat tubuhnya terbaring, tumbuhlah bunga yang kini dikenal dengan nama bunga narcissus.
Kisah ini kemudian diadopsi ke dalam dunia psikologi.
Istilah "narsisme" pertama kali digunakan pada akhir abad ke-19, dan dipopulerkan oleh Sigmund Freud dalam tulisan berjudul On Narcissism (1914).
Freud menyebut bahwa narsisme merupakan tahap perkembangan normal pada masa anak-anak, namun jika terbawa hingga dewasa secara ekstrem, dapat berkembang menjadi gangguan kepribadian.
Dalam ilmu psikologi modern, narsisme dikategorikan sebagai gangguan kepribadian narsistik (NPD), yang ditandai dengan rasa diri yang berlebihan, keinginan untuk selalu dipuji, serta minimnya empati terhadap orang lain.
Kisah Narcissus menjadi pengingat bahwa mencintai diri sendiri memang penting, namun harus disertai dengan batas dan empati.
Terlalu tenggelam dalam pujian bisa jadi bumerang yang menyakitkan, sebagaimana nasib tragis sang dewa tampan dari Yunani ini.
Penulis: Effa Desiana Hidayah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira