JP Radar Nganjuk- Sebelum hadirnya plastik dan teknologi modern, rotan menjadi bahan utama dalam alat bantu belajar berjalan bagi bayi. Sejumlah foto vintage dari akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 menunjukkan penggunaan kerangka rotan—dikenal sebagai baby walker atau go-cart—yang menjadi bagian penting dalam praktik pengasuhan masa itu.
Evolusi Desain dan Fungsi
Penggunaan alat bantu berjalan sebenarnya telah dikenal sejak abad ke-15, namun pada abad ke-19, kerangka rotan mulai populer karena sifatnya yang ringan dan lentur. Desainnya umumnya berupa anyaman rotan berbentuk kerangka berkaki roda, memungkinkan bayi untuk duduk atau berdiri sambil belajar melangkah. Beberapa model bahkan dilengkapi dengan rak kecil untuk mainan atau pegas agar bayi bisa meloncat-loncat.
Selain sebagai alat bantu berjalan, baby walker rotan juga berfungsi sebagai pengaman, menjauhkan bayi dari bahaya seperti tungku api atau tangga. Namun, seiring perkembangan zaman, muncul kekhawatiran akan aspek keselamatan alat ini. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan baby walker justru bisa menghambat perkembangan motorik dan meningkatkan risiko cedera. Atas dasar itulah, Kanada melarang peredaran alat ini pada 2004.
Jendela ke Masa Lalu
Meski menuai kontroversi, baby walker rotan menjadi bukti bagaimana orang tua di masa lalu berupaya mendukung tumbuh kembang anak mereka dengan alat yang tersedia. Foto-foto lama ini bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan juga potret nilai-nilai dan kehidupan keluarga pada masa awal abad ke-20.
Teknologi sederhana seperti kerangka rotan menunjukkan bahwa kepedulian terhadap perkembangan anak bukanlah hal baru. Ia telah menjadi bagian dari warisan budaya dan sejarah pengasuhan yang tak kalah menarik untuk ditelusuri.
Editor : Jauhar Yohanis