Jawa Pos Radar Nganjuk memulai perjalanan menjelajahi desa-desa unik di Kota Angin. Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, menjadi titik awal.
Terletak di lereng Gunung Wilis, desa ini dikenal dengan satu tradisi sakral yang masih hidup hingga kini: Gombak Kuncung.
Apa Itu Tradisi Gombak dan Kuncung?
Gombak: Rambut Panjang Anak Laki-Laki
Gombak adalah rambut yang dibiarkan tumbuh panjang dari bagian belakang kepala anak laki-laki sejak lahir. Rambut ini bisa lurus atau spiral dan tidak boleh dipotong hingga usia sekitar enam atau tujuh tahun, bahkan hingga balig. Rambut di bagian lain justru dipotong pendek, sehingga Gombak menjadi sangat mencolok.
“Gombak ini khusus untuk anak laki-laki sampai mereka balig,” jelas Lasmirah, warga Desa Ngliman.
Kuncung: Rambut Depan Anak Perempuan
Untuk anak perempuan, tradisi serupa disebut Kuncung. Bedanya, rambut yang dibiarkan panjang justru bagian depan, menyerupai poni. Kuncung tidak boleh dipotong sampai anak perempuan memasuki masa balig.
Baca Juga: Rotan, Baby Walker Pertama Sebelum Era Plastik. Bagaimana Desain dan Teknologinya?
Keyakinan Mistis di Balik Tradisi
Warga Ngliman percaya bahwa pelanggaran terhadap tradisi Gombak Kuncung akan berdampak buruk bagi anak. Anak bisa menjadi sakit-sakitan, nakal, tidak patuh pada orang tua, hingga mengalami nasib buruk.
“Cerita tentang dampak jika melanggar tradisi ini selalu diwariskan turun-temurun. Maka kami tetap menjalankannya,” tambah Lasmirah.
Warisan Ki Ageng Ngaliman
Lebih dari sekadar adat, tradisi Gombak Kuncung diyakini berasal dari leluhur keramat desa: Ki Ageng Ngaliman. Sosok ini dianggap sebagai penjaga spiritual dan asal-usul tradisi tersebut.
“Kami ini keturunan Gombak Kuncung. Jadi wajib menjaga tradisi ini,” tutur Lasmirah.
Baca Juga: Terungkap! Kapal Suci Firaun Khufu di Dekat Piramida Giza, Kendaraan Menuju Akhirat?
Harmoni Tradisi dan Kepercayaan
Tradisi Gombak Kuncung di Desa Ngliman menjadi contoh nyata bagaimana warisan budaya bisa terus hidup jika dijaga oleh keyakinan dan rasa hormat terhadap leluhur.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Desa Ngliman tetap memegang erat akar budayanya.
Editor : Miko