JP RADAR NGANJUK-Generasi Z tumbuh di tengah teknologi digital yang berkembang pesat. Sejak kecil mereka sudah berteman baik dengan gawai, internet, media sosial, dan berbagai aplikasi. Di tengah gempuran teknologi yang semakin berkembang, satu pertanyaan muncul: Apakah membaca buku fisik masih diminati?
Hadirnya ebook, audiobook, serta platform membaca secara daring seperti aplikasi Wattpad dan media baca seperti Kindle, membuat aktivitas membaca menjadi lebih praktis dan efisien. Hanya dengan satu perangkat, ratusan judul bacaan dapat diakses tanpa perlu membawa buku tebal ke mana-mana. Tidak heran jika banyak generasi Z yang memilih platform digital sebagai media bacaan utama.
Namun, bukan berarti buku fisik secara total ditinggalkan. Sebagian kalangan masih beranggapan bahwa membaca buku cetak memiliki sensasi tersendiri. Aroma kertas, halaman yang dapat dilipat, dan kesan nyata saat memegang buku menjadi pengalaman emosional yang tidak dapat digantikan oleh peran digitalisasi.
Di sisi lain, buku fisik juga memiliki tantangan tersendiri. Harga yang relatif lebih mahal, keterbatasan stok, perlunya waktu lebih untuk distribusi membuatnya kalah saing dari versi digital yang serba instan. Selain itu, minat untuk membaca buku fisik pun sering tergeser oleh konten-konten singkat seperti video, podcast, thread, dan lainnya yang cenderung lebih cepat dikonsumsi.
Meski begitu, banyak hal yang masih menjadi tanda bahwa buku fisik belum sepenuhnya tersingkir. Beberapa diantaranya adakah kehadiran komunitas membaca, masih ramainya toko buku, hingga adanya kampanye literasi. Bahkan, dengan tren membagikan koleksi buku fisik, review bacaan, dan haul buku di media sosial menjadi cara baru untuk membuat membaca tetap relevan di era digital.
Di tengah perubahan zaman yang semakin modern ini, buku fisik mungkin tak lagi menjadi satu-satunya pilihan sebagai media baca. Namun, daya tariknya masih bertahan bagi mereka yang menghargai pengalaman membaca secara utuh—bukan sekadar mengejar kecepatan, tapi juga kedalaman.
Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis