JP RADAR NGANJUK- Suasana Oktoberfest di München dengan arak-arakan kereta kuda bertong bir -- Peserta Jember Fashion Carnaval tampil dengan kostum bernuansa budaya Jawa di Jember.
Dalam peta global pariwisata dan diplomasi budaya, festival atau perayaan berfungsi sebagai jendela untuk mempromosikan kekayaan suatu daerah pada dunia. Dunia memiliki beragam festival yang bukan hanya menjadi ajang hiburan, melainkan juga representasi dunia. Dua festival
yang secara geografis dan kultural sangat berbeda, namun sama-sama sukses dalam misi ini, jika di Jerman ada Oktoberfest yang melegenda maka indonesia bangga dengan Jember Fashion Carnaval (JFC). Keduanya sama-sama berhasil menembus panggung internasional dengan keunikan masing-masing.
Sejarah Oktoberfest
Oktoberfest telah lama berdiri sebagai raksasa festival rakyat yang mendunia. Oktoberfest, yang digelar pertama kali pada 12 Oktober 1810 di Muenschen, Bavaria bermula sebagai pesta rakyat untuk merayakan pernikahan Putra Mahkota Ludwig (calon Raja Ludwig l) dengan Putri Therese von Sachsen-Hilburghausen.
Perayaan ini dimeriahkan dengan pacuan kuda diarea lapang yang kemudian di kenal sebagai Theresienwiese (“wies`n”). Dengan kesuksesan acara ini di kalangan penduduk, para bangsawan menjadikannya tradisi tahunan.
Sejak saat itu, Oktoberfest menjadi bagian penting dari budaya Jerman, festival ini berkembang menjadi budaya yang di kenal dengan tenda bir megah, pabrik bir lokal Munich bergabung dengan festival ini pada tahun 1896. Setiap tahun, jutaan wisatawan dunia berbondong-bondong ke Muenchen demi merasakan Oktoberfest yang meriah.
Sejarah Jember Fashion Carnaval
Di sisi lain, Indonesia memiliki perayaan yaitu Jember Fashion Carnaval. JFC bermula dari keberadaan rumah mode yang didirikan oleh Dynand Fariz pada 1998. Rumah mode yang bernama Dynand Fariz Internasional High Fashion Center didirikan sebagai wujud apresiasi dan kontribusi Dynand di dunia fashion.
Berbeda dengan Oktoberfest, JFC hadir sebagai parade mode jalanan dengan kostum spektakuler yang mengangkat kekayaan budaya nusantara dan tema-tema internasional disekitar kota Jember dan memuncak dengan pelaksanaan pertama JFC pada 1 Januari 2003, bertepatan dengan hari jadi kota Jember.
Ribuan peserta mulai dari pelajar hingga desainer ikut serta mempersembahkan karya kreatif mereka. Sejk saat itu, JFC menjadi festival budaya dan kreativitas bertaraf dunia. Tak heran JFC kini di sejajarkan dengan carnaval dunia seperti Rio Carnival di Brazil dan Notting Hill Carnival di London.
Baca Juga: Festival Gula di Turki, Tradisi Manis dan Hangat Saat Lebaran
Meski memiliki perbedaan karakter yang cukup menonjol, kedua festival sama-sama mengangkat budaya lokal yang menjadi tontonan global. Oktoberfest menonjolkan identitas Bavaria sebagai tradisi Jerman, sementara JFC menjadikan Jember sebagai ikon kota carnaval dunia.
Bagi Indonesia, JFC bukan sekedar parade busana, melainkan penggerak pariwisata dan ekonomi kreatif. Sementara bagi Jerman, Oktoberfest tetap menjadi magnet wisata dan simbol kebanggaan Bavaria.
Penulis: Emerensiana Jufianti, Dita Amelia Ningsih-Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Miko