Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Psikoanalisis Freud dalam Sastra: Membaca Tokoh lewat Id, Ego, dan Superego

Internship Radar Kediri • Minggu, 7 September 2025 | 15:47 WIB
Sigmund Freud
Sigmund Freud

JP RADAR NGANJUK-Sastra tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga menjadi cermin kepribadian manusia. Karena itu, teori psikoanalisis Sigmund Freud sering digunakan untuk menganalisis tokoh dalam karya sastra. Menurut Alwisol (2009), teori Freud membagi kepribadian manusia ke dalam tiga komponen: id, ego, dan superego.

Id adalah dorongan instingtif yang mencari kesenangan. Ia bekerja berdasarkan pleasure principle tanpa mempertimbangkan moral atau logika. Misalnya, tokoh yang impulsif, agresif, atau haus kekuasaan bisa dilihat sebagai cerminan dominasi id.

Ego berfungsi sebagai penengah yang bekerja dengan reality principle, mencoba menyeimbangkan keinginan id dengan realitas. Tokoh dengan ego kuat biasanya tampak realistis dan mampu mengambil keputusan yang logis.

Baca Juga: Personologi Henry Murray untuk Kajian Sastra: Cara Baru Memahami Tokoh

Sementara itu, superego mewakili nilai moral dan norma sosial. Tokoh yang penuh rasa bersalah atau berusaha hidup sesuai aturan adalah contoh dominasi superego (Alwisol, 2009).

Selain itu, Freud juga menjelaskan adanya mekanisme pertahanan ego (defense mechanism) yang bekerja untuk meredam kecemasan ketika id, ego, dan superego saling bertentangan. Misalnya, tokoh dalam karya sastra bisa menunjukkan sikap rasionalisasi atau penyangkalan sebagai bentuk pertahanan diri (Alwisol, 2009).

Contoh penerapan teori ini tampak dalam novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli. Tokoh Datuk Maringgih mencerminkan id: ambisius, penuh nafsu kekuasaan, dan haus harta.

Baca Juga: Hermeneutik Semiotika dalam Pemaknaan Sastra

Tokoh Siti Nurbaya menghadirkan superego: ia taat pada norma, berbakti pada orang tua, dan mengorbankan kebahagiaan pribadi demi kewajiban moral.

Sementara itu, tokoh Samsul Bahri mewakili ego: ia berusaha menyeimbangkan cinta dan realitas sosial, sekaligus mencari jalan tengah yang logis di tengah tekanan lingkungan. Konflik antara id, ego, dan superego melalui tokoh-tokoh ini memperlihatkan dinamika batin yang kompleks.

Dengan menggunakan psikoanalisis Freud, pembaca bisa melihat lapisan psikologis para tokoh. Novel Siti Nurbaya bukan sekadar kisah percintaan klasik, melainkan juga gambaran konflik batin manusia antara keinginan, norma, dan realitas. Dengan begitu, membaca sastra menjadi bukan hanya soal cerita, melainkan juga cara memahami jiwa manusia.

Baca Juga: Menelusuri Simbol dan Imaji Cinta dalam Lagu Juwita Malam Karya Ismail Marzuki

 

Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya

Editor : Miko
#psikoanalisis #Tokoh #sigmund freud #superego #ID #sastra #ego