JP RADAR NGANJUK-Sastra bukan hanya karya imajinatif, tetapi juga medium yang memotret relasi kuasa dalam masyarakat. Melalui teks sastra, pembaca dapat melihat bagaimana norma, nilai, dan struktur sosial bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu teori yang relevan untuk membaca hal ini adalah konsep hegemoni dari Antonio Gramsci. Menurut Gramsci (1971), hegemoni adalah dominasi kelas penguasa yang dijalankan bukan semata-mata lewat paksaan, tetapi melalui persetujuan dan penerimaan nilai oleh masyarakat.
Artinya, kekuasaan tidak selalu harus terlihat atau dipaksakan; terkadang masyarakat sendiri yang menerima dan menegakkan sistem yang menguntungkan kelompok dominan.
Dalam konteks sastra, hegemoni sering tampak ketika tokoh atau kelompok yang tertindas menerima begitu saja nilai yang merugikan dirinya, karena nilai tersebut dianggap wajar dan alami.
Baca Juga: Personologi Henry Murray untuk Kajian Sastra: Cara Baru Memahami Tokoh
Misalnya, perempuan yang menerima peran domestik secara mutlak, atau rakyat kecil yang menganggap kemiskinan sebagai takdir yang tidak bisa diubah. Bentuk penindasan seperti ini disebut penindasan halus: tidak menggunakan kekerasan fisik, tetapi tetap membatasi kebebasan dan pilihan individu.
Contoh konkret dapat ditemukan dalam novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli. Tokoh Siti Nurbaya menerima perjodohan dengan Datuk Maringgih demi menyelamatkan kehormatan keluarga. Keputusan tersebut bukan sepenuhnya hasil kehendak pribadi Siti Nurbaya, melainkan buah dari tekanan sosial dan budaya patriarki yang menekankan kepatuhan perempuan.
Nilai dominan yang berlaku—bahwa perempuan harus rela berkorban demi keluarga dan kehormatan—membuat Siti Nurbaya tunduk meskipun akhirnya ia menderita. Di sini, jelas terlihat bagaimana ideologi dominan bekerja secara terselubung, membentuk perilaku individu tanpa perlu paksaan langsung.
Baca Juga: Hermeneutik Semiotika dalam Pemaknaan Sastra
Selain itu, membaca karya sastra dengan kacamata Gramsci memungkinkan kita untuk memahami berbagai bentuk penindasan yang tidak selalu tampak. Hegemoni bisa bekerja lewat kebiasaan sehari-hari, pendidikan, media, bahkan agama, sehingga pembaca yang peka dapat mengenali bagaimana norma dan nilai membentuk struktur sosial.
Misalnya, dalam banyak cerita rakyat, tokoh yang lemah atau miskin sering digambarkan pasrah terhadap nasibnya, seolah menerima status sosialnya sebagai hal wajar. Sastra dalam hal ini bukan hanya menceritakan kisah individual, tetapi juga merefleksikan relasi kuasa dan perlawanan dalam masyarakat.
Dengan demikian, sastra menjadi cermin sosial yang penting. Membaca teks sastra melalui perspektif Gramsci bukan hanya membuat kita menyelami cerita atau karakter, tetapi juga membuka mata terhadap mekanisme kekuasaan dan penindasan yang tersembunyi.
Hal ini membantu pembaca mengembangkan kesadaran kritis: bagaimana masyarakat membentuk individu, bagaimana individu merespon, dan bagaimana sastra merekam semua itu. Dengan cara ini, karya sastra berfungsi ganda—sebagai hiburan sekaligus alat analisis sosial, yang memungkinkan pembaca menyadari dinamika kekuasaan dalam kehidupan nyata.
Baca Juga: Menelusuri Simbol dan Imaji Cinta dalam Lagu Juwita Malam Karya Ismail Marzuki
Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis