JP RADAR NGANJUK-Sastra tidak hanya menghadirkan kisah imajinatif, tetapi juga menjadi medium refleksi terhadap kepribadian manusia. Banyak tokoh dalam karya sastra yang sesungguhnya mencerminkan dinamika batin dan pola dasar jiwa manusia.
Karena itu, teori psikologi analitik Carl Gustav Jung menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk membaca tokoh sastra. Jung (1968) memperkenalkan gagasan tentang collective unconscious (ketidaksadaran kolektif), yakni lapisan kejiwaan yang diwariskan secara universal dan berisi archetype, yaitu pola dasar perilaku dan citra yang muncul berulang dalam mitos, legenda, dan karya seni lintas budaya.
Menurut Alwisol (2009), terdapat empat arketipe utama yang menjadi dasar kepribadian manusia, yaitu persona, shadow (bayangan), anima-animus, dan self (diri). Persona adalah topeng sosial yang dikenakan individu untuk menyesuaikan diri dengan harapan masyarakat. Ia bukan identitas sejati, melainkan representasi diri yang ingin dilihat orang lain. Shadow (bayangan) adalah sisi gelap dalam diri manusia, yang berisi dorongan primitif, agresi, dan kelemahan yang biasanya ditekan karena dianggap tidak sesuai dengan norma.
Baca Juga: Psikoanalisis Freud dalam Sastra: Membaca Tokoh lewat Id, Ego, dan Superego
Lebih jauh, Jung juga menjelaskan anima-animus, yakni representasi aspek gender yang berlawanan dalam jiwa manusia. Anima adalah sisi feminin dalam diri laki-laki, sedangkan animus adalah sisi maskulin dalam diri perempuan.
Kehadiran arketipe ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara sifat maskulin dan feminin dalam perkembangan kepribadian. Adapun self (diri) merupakan arketipe yang melambangkan pusat keutuhan jiwa. Self menjadi tujuan akhir dari proses individuasi, yaitu perjalanan menyatukan kesadaran dengan ketidaksadaran agar tercapai keseimbangan batin.
Artikel Verywell Mind (2024) juga mempertegas fungsi tiap arketipe ini. Persona membantu individu beradaptasi dengan lingkungan sosial, shadow (bayangan) menyingkap kelemahan sekaligus potensi tersembunyi, anima-animus menghadirkan keseimbangan psikologis antara maskulin dan feminin, sementara self (diri) menjadi simbol keutuhan, yang dalam banyak budaya digambarkan dengan bentuk mandala.
Baca Juga: Hegemoni Gramsci dalam Sastra: Membaca Penindasan yang Terselubung
Penerapan teori Jung dapat ditemukan dalam karya sastra klasik, salah satunya epos Mahabharata. Tokoh Arjuna dapat ditafsirkan sebagai cerminan persona, karena ia digambarkan sebagai ksatria ideal yang penuh wibawa dan berperan sosial.
Sebaliknya, Kurawa merepresentasikan shadow, dengan sifat serakah, ambisius, dan penuh nafsu kekuasaan. Kehadiran Dewi Subadra dapat dibaca sebagai anima, sosok feminin yang melengkapi dan menyeimbangkan jiwa Arjuna. Sementara itu, perjalanan Pandawa dalam menegakkan dharma menggambarkan pencarian menuju self, yakni keutuhan batin dan kebenaran universal.
Dengan demikian, penggunaan teori Jung membuka ruang baru dalam kajian sastra. Tokoh tidak lagi dipandang semata sebagai individu fiksi, tetapi juga sebagai manifestasi arketipe universal yang mengendap dalam ketidaksadaran kolektif manusia. Membaca sastra melalui perspektif Jung berarti juga membaca perjalanan jiwa: mengenali persona, menghadapi bayangan, memahami sisi feminin dan maskulin dalam diri, serta menapaki jalan menuju keutuhan diri.
Baca Juga: Personologi Henry Murray untuk Kajian Sastra: Cara Baru Memahami Tokoh
Penulis: Redinta Rachma Ayshafa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis