Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Hok Tiek Hian: Saksi Bisu Sejarah Tionghoa Surabaya Sejak Abad ke-13

Internship Radar Kediri • Jumat, 19 September 2025 | 18:09 WIB
Kelenteng dengan arsitektur khas Tionghoa
Kelenteng dengan arsitektur khas Tionghoa

Di tengah padatnya kawasan Pecinan Surabaya, berdiri megah sebuah klenteng bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang masyarakat Tionghoa di Kota Pahlawan. Klenteng Hok (Hong) Tiek Hian, atau akrab disebut Klenteng Dukuh, tidak hanya menjadi tempat ibadah umat Tri Dharma (Konghucu, Taoisme, dan Buddha), tetapi juga ruang pelestarian budaya dan tradisi yang telah bertahan lebih dari tujuh abad.

Konon, klenteng ini dibangun sekitar tahun 1293 oleh pasukan Tartar dari Dinasti Yuan ketika Kublai Khan mengirim ekspedisi ke Nusantara. Meski catatan tertulis masih diperdebatkan, narasi lokal menyebut bahwa sejak abad ke-13 bangunan ini sudah berdiri. Hingga kini, Hok Tiek Hian tetap menjadi salah satu klenteng tertua di Surabaya yang menyimpan kisah sejarah lintas generasi.

Keunikan klenteng ini tidak hanya terletak pada usianya, tetapi juga arsitekturnya yang khas. Terdapat dua bangunan utama yang dipisahkan oleh gang sempit, terhubung dengan sebuah jembatan kecil yang dijaga pahatan naga. Di lantai pertama terdapat altar Macko dan Kong Co, sedangkan bangunan atas memuat altar Dewi Kwan Im hingga Khong Wan Sue. Ornamen klasik seperti hiolo, ukiran kayu, naga, burung, dan simbol-simbol Tionghoa kuno masih terjaga keasliannya.

Setiap menjelang Imlek, klenteng ini ramai dengan tradisi penyucian rupang (patung dewa-dewi) yang dikenal dengan sebutan Kimsin. Ritual ini menjadi bagian penting untuk menyambut tahun baru dengan penuh hormat dan khidmat. Selain itu, Hok Tiek Hian juga rutin menampilkan pertunjukan Wayang Potehi, seni boneka khas Tionghoa yang tak hanya menghibur, tetapi juga mewariskan nilai budaya dan religius. Pertunjukan tersebut bahkan sempat digelar tiga kali sehari sebelum pandemi, menjadikannya daya tarik tersendiri bagi umat maupun wisatawan.

Tidak hanya urusan ritual, kelenteng ini juga menjadi magnet bagi komunitas seni. Menjelang Imlek, seniman lokal kerap mengabadikan suasana heritage klenteng lewat lukisan maupun fotografi. Hal ini menegaskan peran Hok Tiek Hian sebagai ruang kebudayaan yang hidup di tengah modernisasi kota.

Meski sempat mengalami kebakaran kecil pada 17 Februari 2023 akibat lilin yang menyambar lemari kayu, klenteng ini tetap lestari. Api berhasil dipadamkan dalam waktu 30 menit tanpa korban jiwa, dan kegiatan ibadah serta budaya berjalan normal kembali. Kini, Hok Tiek Hian tidak hanya dikenang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga simbol keberagaman, toleransi, dan kekayaan budaya Surabaya.

 

Dita Amelia Ningsih Mahasiswa Universitas Negeri Suabaya

Editor : Jauhar Yohanis
#klenteng surabaya #warisan #cagar budaya #budaya #wayang potehi