JP RADAR NGANJUK Di tengah gemerlap kehidupan metropolitan Surabaya, terselip sebuah warisan budaya yang tetap lestari: Gulat Okol. Seni bela diri tradisional khas masyarakat Surabaya, khususnya di Kecamatan Sambikerep, ini bukan sekadar pertunjukan fisik biasa, melainkan ekspresi budaya yang mengakar kuat pada tradisi agraris masyarakat Jawa Timur.
Gulat Okol memiliki sejarah panjang yang tak terpisahkan dari ritual sedekah bumi dan budaya pertanian. Tradisi ini bermula dari bentuk syukur para petani dan penggembala atas turunnya hujan dan keberhasilan panen. Dalam setiap gerakannya, terkandung makna penghormatan terhadap alam dan rasa syukur atas berkah yang diterima masyarakat agraris.
Arena pertarungan Gulat Okol pun sarat dengan simbol-simbol tradisional. Dilaksanakan di area berukuran 6x8 meter dengan lantai jerami dan pembatas tali tambang, para pesilat mengenakan udeng dan selendang sebagai atribut tradisional. Setiap detail tersebut merefleksikan kearifan lokal yang dijaga turun-temurun.
Lebih dari sekadar adu fisik, Gulat Okol mengandung nilai spiritual dan sosial yang dalam. Tradisi ini menjadi media pemersatu komunitas dan penjaga identitas kultural. Dalam setiap gelaran, terkandung pesan-pesan moral tentang sportivitas, penghormatan terhadap lawan, dan keselarasan dengan alam.
Kini, Gulat Okol rutin dihelat dalam rangkaian acara sedekah bumi, berkembang menjadi daya tarik wisata budaya yang unik. Keberadaannya tidak hanya memperkaya khazanah budaya Surabaya, tetapi juga menjadi living museum yang memperkenalkan nilai-nilai luhur tradisi lokal kepada generasi muda dan wisatawan.
Di tengah gempuran budaya modern, Gulat Okol menghadapi tantangan pelestarian yang tidak kecil. Namun, dengan terus dilestarikannya tradisi ini dalam berbagai festival budaya, Gulat Okol membuktikan bahwa warisan leluhur tetap relevan di era kontemporer. Mari kita jaga bersama keunikan budaya ini agar tak punah ditelan zaman.
Dita Amelia Ningsih
Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Karen Wibi