JP RADAR NGANJUK AKU Di antara kekayaan budaya Surabaya, terselip sebuah warisan seni pertunjukan yang unik dan mempesona: Wayang Potehi. Seni boneka kantong kain ini berasal dari Tiongkok Selatan yang dibawa oleh perantau Tionghoa ke Nusantara sejak abad ke-16. Nama "potehi" sendiri berasal dari bahasa Hokkien: "po" (kantong), "te" (kain), dan "hi" (wayang), yang secara harfiah menggambarkan bentuk wayang yang dimainkan dengan tangan masuk ke dalam kantong kain.
Sejarah Wayang Potehi di Indonesia memiliki catatan panjang, khususnya di Jawa Timur. Sejak tahun 1920-an, kesenian ini telah berkembang pesat di Jombang dan Surabaya, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual dan perayaan di kelenteng-kelenteng. Klenteng Hong San Kiong di Gudo, Jombang, dan klenteng tertua di Surabaya menjadi pusat pertumbuhan seni ini, melestarikan tradisi leluhur di tanah baru.
Teknik pertunjukan Wayang Potehi sangat khas, dimana dalang menggunakan kelima jarinya untuk menghidupkan boneka kayu berbalut kain. Ibu jari menggerakkan kepala, sementara jari lainnya mengendalikan kedua lengan boneka. Diiringi alunan musik tradisional Tionghoa seperti rebab, suling, gendang, dan gembreng, wayang ini membawakan cerita-cerita epik dari legenda, mitos, hingga sejarah dinasti Tiongkok.
Keunikan Wayang Potehi terletak pada proses akulturasi budayanya. Meski berakar dari Tiongkok, wayang ini telah berbaur dengan kearifan lokal Indonesia, menciptakan bentuk kebudayaan baru yang khas. Pada 2022, Wayang Potehi resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, mengukuhkan posisinya sebagai kekayaan budaya nasional yang bernilai tinggi.
Di Surabaya, Wayang Potehi menemukan rumahnya di klenteng tertua kota ini, yang menjadi pusat kegiatan dan pelestarian. Dalang-dalang senior seperti Bapak Liem dan generasi penerusnya terus berjuang mempertahankan seni ini, menjadikannya jembatan budaya yang menghubungkan generasi tua dan muda, sekaligus simbol toleransi dan keberagaman masyarakat Surabaya.
Di tengah arus globalisasi, pelestarian Wayang Potehi menghadapi tantangan serius. Namun, dengan semakin banyaknya komunitas muda yang tertarik mempelajari seni tradisional, masa depan Wayang Potehi mulai menunjukkan titik terang. Mari kita bersama mengenal, mencintai, dan mendukung kelestarian Wayang Potehi agar warisan budaya yang merepresentasikan kebersamaan multi-etnis ini tetap hidup dan menginspirasi generasi mendatang.
Dita Amelia Ningsih
Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Karen Wibi