JP RADAR NGANJUK Di pesisir Jawa Timur, khususnya sekitar Surabaya, terdapat sebuah tradisi yang telah mengakar kuat dalam menyambut kelahiran manusia baru: Larung Ari-Ari. Ritual adat ini tidak hanya sekadar prosesi, melainkan sebuah narasi budaya yang menghubungkan kehidupan manusia dengan kekuatan alam, khususnya laut, dalam sebuah ikatan spiritual yang mendalam.
Tradisi menghanyutkan ari-ari (plasenta) bayi ke laut atau sungai ini mengandung makna filosofis yang dalam. Masyarakat setempat percaya bahwa dengan menghanyutkan ari-ari, mereka mengalirkan harapan agar rezeki dan keberuntungan sang bayi akan mengalir deras seperti air laut. Ritual ini juga menjadi wujud syukur atas anugerah kelahiran yang diberikan Yang Maha Kuasa.
Prosesi Larung Ari-Ari dilakukan dengan penuh khidmat dan detail. Ari-ari yang telah dibersihkan dimasukkan ke dalam kendil (kendi gerabah) bersama berbagai sesaji simbolis: bunga tujuh rupa melambangkan keindahan hidup, kain putih sebagai simbol kesucian, jarum dan benang yang menyiratkan ketelitian dalam menjalani kehidupan, serta garam yang melambangkan keabadian. Prosesi ini seringkali diiringi tembang tradisional Macapat Dhandhang Gula yang syairnya berisi doa-doa untuk kebaikan sang bayi.
Nilai spiritual dalam tradisi ini terlihat jelas dari penghormatan terhadap alam dan leluhur. Dengan menghanyutkan ari-ari ke laut, masyarakat tidak hanya menunjukkan rasa syukur tetapi juga pengakuan akan ketergantungan manusia pada alam. Ritual ini menjadi bentuk komunikasi simbolis antara manusia, alam, dan leluhur dalam sebuah siklus kehidupan yang harmonis.
Di tengah gempuran modernisasi, tradisi Larung Ari-Ari menghadapi tantangan pelestarian yang serius. Namun, upaya untuk menjaga kelestariannya terus dilakukan melalui pendidikan budaya kepada generasi muda. Penting bagi masyarakat modern untuk memahami bahwa tradisi ini bukan sekadar ritual kuno, melainkan warisan budaya yang mengandung nilai-nilai luhur kehidupan.
Larung Ari-Ari mengajarkan kita tentang keselarasan hidup dengan alam dan pentingnya rasa syukur. Dalam setiap prosesinya, tersirat pesan tentang siklus kehidupan yang berkelanjutan dan penghargaan terhadap asal-usul manusia. Tradisi semacam inilah yang memperkaya khazanah budaya Nusantara dan memperkuat jati diri bangsa di tengar derasnya arus globalisasi.
Dita Amelia Ningsih
Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Karen Wibi