JP RADAR NGANJUK Di antara gemerlap festival modern, Surabaya masih memelihara tradisi unik yang menyambut Maulid Nabi dengan cara yang khas: Topeng Muludan. Seni pertunjukan rakyat ini tidak hanya menjadi bagian dari perayaan keagamaan, tetapi telah berkembang menjadi medium ekspresi kreatif bagi generasi muda Surabaya, menghidupkan warisan budaya dalam kemasan yang relevan dengan zaman.
Topeng Muludan memiliki ciri khas bahan pembuatannya yang sederhana namun penuh makna. Menggunakan kertas daur ulang dan bahan ramah lingkungan lainnya, topeng ini merefleksikan kepraktisan budaya urban Surabaya era 1970-1990-an. Dulu, topeng ini mudah ditemui di pasar tradisional seperti Pasar Genteng dan Pegirian, menjadi mainan yang dinantikan anak-anak setiap perayaan Maulid hingga Agustusan.
Lebih dari sekadar permainan, Topeng Muludan berfungsi sebagai sarana edukasi budaya yang efektif. Melalui pertunjukan topeng, anak-anak diperkenalkan dengan legenda lokal dan kisah islami klasik. Proses ini tidak hanya menghibur tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual secara halus, menjadikan pembelajaran budaya sebagai pengalaman yang menyenangkan.
Pertunjukan Topeng Muludan disajikan dengan elemen seni yang sederhana namun memikat. Riasan wajah yang tidak rumit, kostum tradisional, serta iringan musik tradisional dan instrumen sederhana menciptakan nuansa khas yang mudah diakses oleh berbagai kalangan. Kesederhanaan inilah justru yang membuat kesenian ini tetap hidup di hati masyarakat.
Komunitas dan sanggar seni di Surabaya aktif mengadakan berbagai inisiatif untuk melestarikan tradisi ini. Kelas praktik, workshop pembuatan topeng, hingga parade budaya rutin diselenggarakan untuk melibatkan warga dari berbagai usia. "Topeng Muludan mengajarkan anak-anak tentang warisan budaya dengan cara yang menyenangkan," ungkap seorang pelatih sanggar di Surabaya.
Bagi yang ingin menyaksikan langsung keunikan Topeng Muludan, dapat mengunjungi sanggar-sanggar seni di kawasan Surabaya pusat selama bulan Maulid. Beberapa komunitas juga membuka kelas partisipatif bagi masyarakat yang ingin belajar membuat topeng tradisional ini. Dengan terlibat langsung, kita tidak hanya menjadi penonton tetapi juga pelaku pelestarian budaya kota.
Dita Amelia Ningsih
Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Karen Wibi