Berita Seputar Nganjuk Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya

Manten Pegon: Akulturasi Empat Budaya dalam Tradisi Pernikahan Megah Surabaya

Internship Radar Kediri • Kamis, 30 Oktober 2025 | 23:56 WIB
Manten Pegon, tradisi pernikahan khas Surabaya
Manten Pegon, tradisi pernikahan khas Surabaya

JP RADAR NGANJUK Di jantung Surabaya yang metropolitan, tersimpan sebuah tradisi pernikahan yang menjadi bukti nyata harmonisasi budaya: Manten Pegon. Ritual pernikahan unik ini lahir dari proses akulturasi panjang antara budaya Jawa, Arab, Eropa, dan Tionghoa, mencerminkan sejarah Surabaya sebagai kota pelabuhan yang menjadi melting pot berbagai etnis sejak abad ke-19.

Istilah "Pegon" sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti "menyimpang" - sebuah penamaan yang justru membanggakan karena menyiratkan keberanian untuk berbeda. Tradisi ini dengan sengaja menyimpang dari pakem pernikahan adat Jawa pada umumnya, menciptakan format baru yang merayakan keberagaman sebagai kekuatan.

 

Rangkaian prosesi Manten Pegon kaya akan simbolisme budaya yang kompleks. Dimulai dengan kehadiran Lorek, penari warna-warni yang menyambut tamu; Loro Pangkon yang membawa ayam jago sebagai simbol keberanian; hingga Adu Parikan (berbalas pantun) dan Adu Silat yang menunjukkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan ketangguhan fisik. Tidak ketinggalan Jodhang sebagai seserahan tradisional dan puncaknya pada prosesi Panggih dimana pengantin melakukan sungkeman sebagai wujud bakti kepada orang tua.

Busana pengantin dalam Manten Pegon merupakan visualisasi sempurna dari perpaduan budaya. Pengantin pria mengenakan jas tutup bergaya Eropa dilengkapi serban Arab, sementara pengantin wanita memakai gaun panjang dengan sutra Tionghoa, disempurnakan dengan sanggul dan kembang goyang khas Jawa. Setiap elemen pakaian bercerita tentang pertemuan berbagai peradaban.

 

Nilai filosofis terpenting dari Manten Pegon adalah pesan toleransi dan harmoni dalam keberagaman. Tradisi ini menjadi cerminan identitas masyarakat Surabaya yang inklusif, dimana perbedaan tidak dihilangkan melainkan dirayakan sebagai kekayaan bersama. Dalam setiap prosesinya, tersirat ajaran untuk saling menghormati antar etnis dan budaya.

Di era modern, Manten Pegon menghadapi tantangan pelestarian yang serius. Namun, generasi muda Surabaya mulai menunjukkan minat untuk merevitalisasi tradisi ini. Berbagai komunitas budaya aktif mengadakan workshop dan peragaan busana Manten Pegon, menjadikannya tidak hanya sebagai ritual pernikahan tetapi juga bagian dari gerakan pelestarian warisan budaya lokal.

 

Manten Pegon mengajarkan bahwa pernikahan bukan hanya penyatuan dua individu, tetapi juga perayaan kebersamaan lintas budaya. Bagi yang ingin menyaksikan langsung keunikan tradisi ini, beberapa sanggar budaya di Surabaya secara berkala menggelar pertunjukan prosesi Manten Pegon. Dengan melestarikannya, kita turut menjaga warisan multikultural yang menjadikan Indonesia begitu kaya dan berwarna.

 

Dita Amelia Ningsih 

Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya

 

Editor : Karen Wibi
#manten pegon #budaya jawa #tradisi Surabaya #Adat Pernikahan