Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Jula-Juli: Nyawa Humor dan Kritik Sosial Ludruk Surabaya yang Tak Lekang Zaman

Internship Radar Kediri • Jumat, 31 Oktober 2025 | 21:58 WIB
Pertunjukan Jula Juli Suroboyo, teater khas Surabaya
Pertunjukan Jula Juli Suroboyo, teater khas Surabaya

JP RADAR NGANJUK Di antara gemuruh kesenian modern, terdapat sebuah tradisi ludruk Surabaya yang tetap bertahan dengan pesonanya yang khas: Kidung Jula-Juli. Lebih dari sekadar hiburan, Jula-Juli adalah representasi suara rakyat jelata yang disampaikan melalui syair-syair jenaka berbahasa Jawa, penuh sindiran halus dan nasihat kehidupan yang relevan dari masa ke masa.

Jula-Juli telah mengakar dalam budaya Surabaya sejak era keemasan ludruk klasik. Keseniaan ini menemukan bentuk modernnya melalui maestro seperti almarhum Cak Kartolo, yang dengan genius memadukan kelucuan dengan kedalaman makna. Setiap syair yang dilantunkannya bukan hanya untuk ditertawakan, tetapi juga direnungkan, menjadikan Jula-Juli sebagai cermin sosial yang jujur namun menghibur.

 

Secara estetika, Jula-Juli disajikan dengan iringan gamelan khas ludruk yang dinamis, dipadukan dengan gaya vokal yang khas dan ekspresif. Kekuatannya terletak pada kemampuan menyampaikan kritik sosial tajam melalui medium humor, membuat pesan-pesan moral yang disampaikan lebih mudah dicerna dan melekat dalam ingatan penonton.

Di era digital ini, Jula-Juli justru menemukan momentum kebangkitannya. Generasi muda Surabaya mengadaptasinya melalui konten media sosial, festival budaya kota, dan pertunjukan di sekolah-sekolah. Tema-tema yang diangkat pun berkembang, menyentuh isu kekinian seperti gaya hidup konsumtif, politik praktis, hingga problematika generasi milenial, tanpa kehilangan roh tradisinya.

 

Meski demikian, tantangan pelestarian tetap ada. Minimnya regenerasi pelaku dan tekanan urbanisasi mengancam kelangsungan tradisi lisan ini. Namun, upaya serius dilakukan berbagai pihak seperti Komunitas Ludruk Surabaya dan Dinas Kebudayaan setempat dengan mengadakan workshop rutin dan memasukkannya dalam agenda wisata budaya kota.

 

Bagi yang ingin mengalami langsung magisnya Jula-Juli, beberapa sanggar ludruk di kawasan Surabaya timur masih rutin menggelar pertunjukan. Para pelakon muda seperti Mbah Sri dan Cak Wito terus menjaga tradisi ini dengan membawakan parikan-parikan segar yang tetap autentik. Mereka membuktikan bahwa warisan budaya bisa hidup harmonis dengan gaya hiburan modern.

Jula-Juli bukan sekadar kidung penghibur, melainkan jiwa dari masyarakat Surabaya yang lugas, kritis, namun penuh humor. Dalam setiap syairnya, tersimpan kearifan lokal yang terus berga relevan, mengajarkan kita bahwa kritik sosial paling efektif justru disampaikan dengan senyuman dan tawa. Inilah warisan budaya yang pantas kita jaga bersama.

 

Dita Amelia Ningsih 

Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya

Editor : Karen Wibi
#kesenian rakyat #teater indonesia #jula juli suroboyo