Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Ratusan Lampion untuk Tolak Bala

Karen Wibi • Rabu, 18 Februari 2026 | 11:20 WIB

TOLAK BALA: Umat Tri Dharma di Kelenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro memasang 160 lampion untuk merayakan imlek. Lampion dipercaya sebagai cara untuk tolak bala di Tahun Baru Kuda Api 2577
TOLAK BALA: Umat Tri Dharma di Kelenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro memasang 160 lampion untuk merayakan imlek. Lampion dipercaya sebagai cara untuk tolak bala di Tahun Baru Kuda Api 2577

NGANJUK, JP Radar ­Nganjuk- Kelenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro bersolek dalam menyambut Tahun Baru Imlek. Salah satunya dengan memasang ratusan lampion di dalam kelenteng. Ratusan lampion itu mulai dinyalakan pada malam pergantian Tahun Baru Imlek. Ketua Kelenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro Yang Cheng Wen mengatakan pemasangan lampion dilakukan bukan hanya untuk mempercantik kelenteng. Namun juga dipercaya sebagai penolak bala dari energi negatif selama satu tahun ke depan.  “Pemasangan ratusan lampion di Kelenteng Hok Yoe Kiong baru pertama kali dilakukan. Sebelum-sebelumnya jumlah lampion dapat dihitung dengan jari,” ujarnya kepada wartawan koran ini.

Pria yang akrab disapa Roy itu menjelaskan, setidaknya ada 160 lampion yang terpasang di dalam kelenteng. Ratusan lampion itu diletakkan pada tiga bagian kelenteng. Mulai dari altar depan, utama, hingga belakang. Rencananya, selama satu minggu ke depan, ratusan lampion tersebut akan dinyalakan selama 24 jam nonstop. “Baru setelahnya akan dinyalakan ketika ada hari besar tertentu,” tambahnya.

Lebih lanjut, Roy menjelaskan, pemasangan lampion bukan hanya dilakukan untuk maksud estetika. Melainkan ada tujuan lainnya. Menurut Roy, orang Tionghoa percaya lampion-lampion yang dipasang itu dapat menjadi penolak bala dari energi negatif. “Energi negatif itu selalu mencari energi positif yang cenderung memiliki suhu panas. Alih-alih mengejar orang-orang, energi negatif tersebut akan terkelabuhi untuk menyerang lampion,” tandasnya.

Nantinya lampion-lampion itu akan dipasang selama satu tahun. Setelah genap satu tahun, lampion akan diturunkan. Dikembalikan kepada si pemilik. Setelah itu masyarakat Tionghoa dapat memasang lampion baru.

Sementara itu, sejak Senin malam (16/2), puluhan umat Tri Dharma melakukan sembahyang di kelenteng. Prosesi sembahyang dalam menyambut Tahun Baru Imlek itu dilakukan hingga Selasa pagi (17/2). Sembahyang tersebut dilakukan sebagai bentuk ucapan syukur umat Tri Dharma karena sudah diberikan keberkahan selama satu tahun ke belakang. “Sembahyang tidak hanya dilakukan di kelenteng. Namun, bisa dilakukan di masing-masing rumah,” pungkasnya. (wib/tyo)

Editor : Karen Wibi
#lampion #nganjuk #imlek