RADARNGANJUK.JAWAPOS.COM- Sejarah Nganjuk selama ini sering kali hanya dikaitkan dengan narasi besar Kadipaten Berbek dan Godean yang berpuncak pada tradisi boyongan. Namun, tabir sejarah yang lebih kelam dan kompleks tersingkap melalui catatan mengenai eksistensi lima kadipaten yang pernah berdiri di wilayah ini.
Kabid Kebudayaan Disporabudpar Kabupaten Nganjuk, Amin Fuadi, mengungkapkan bahwa peta kekuasaan di Nganjuk dahulu sangat dinamis dan menjadi saksi bisu betapa tajamnya pengaruh politik kolonial dalam memecah belah otoritas lokal.
Jauh sebelum penyatuan wilayah terjadi, Nganjuk menjadi sasaran empuk taktik devide et impera atau adu domba yang dilancarkan oleh VOC. Strategi ini merupakan upaya sistematis Belanda untuk mencaplok wilayah kekuasaan Mataram Islam dengan cara memecah kedaulatan menjadi unit-unit kecil yang lebih mudah dikendalikan.
Baca Juga: Ratusan Lampion untuk Tolak Bala
Di tengah pusaran politik tersebut, Kadipaten Pace muncul sebagai pilar kekuasaan pertama yang paling dominan. Pengaruh Pace pada masa itu tidak main-main, karena cakupan wilayahnya melampaui batas Nganjuk modern, yakni merambah hingga sebagian wilayah Kediri seperti Tarokan dan Gringging.
Nasib Kadipaten Pace berubah drastis ketika sang Adipati dengan tegas memilih jalur perlawanan. Sikap teguh untuk tidak berpihak pada VOC dan menolak tunduk pada kepentingan asing membuat Pace menjadi target utama penghancuran.
Baca Juga: Bauhaus: Jejak Desain Revolusioner yang Membentuk Identitas dan Standar Desain Grafis Modern
Serangan militer yang dilancarkan VOC akhirnya meluluhlantakkan pusat kekuasaan Pace hingga runtuh. Amin Fuadi menjelaskan bahwa kehancuran Pace ini justru menjadi titik awal pergeseran peta politik di Nganjuk, di mana setelahnya muncul Kadipaten Berbek dan disusul oleh Kertosono yang juga sempat berdiri sebagai entitas mandiri.
Rentetan sejarah panjang ini menunjukkan bahwa Nganjuk pernah melewati fase perpecahan yang sangat cair sebelum akhirnya wilayah-wilayah kecil tersebut mulai disatukan kembali ke dalam satu kesatuan administrasi. Transformasi besar terjadi pada medio 1880-an ketika istilah "Kabupaten" mulai diperkenalkan secara resmi.
Pada masa transisi tersebut, wilayah yang telah bersatu kemudian ditata ulang ke dalam beberapa distrik atau kawedanan, mengakhiri era fragmentasi panjang yang sempat dipicu oleh kelicikan taktik kolonial di tanah Anjuk Ladang.
Editor : rekian