Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Mengenal Rangga Wirosroyo, Panglima Perang Sultan Agung yang Jadi Adipati Pace Nganjuk

rekian • Senin, 6 April 2026 | 23:06 WIB
ILUSTRASI: Sejarah Nganjuk. (AI Gemini)
ILUSTRASI: Sejarah Nganjuk. (AI Gemini)

RADARNGANJUK.JAWAPOS.COM– Jejak sejarah Kabupaten Nganjuk seolah tidak pernah habis untuk dikupas, terutama saat menyinggung eksistensi wilayah Pace di masa lampau. Salah satu sosok sentral yang menjadi benang merah kejayaan daerah ini adalah Rangga Wirosroyo.

Nama besar ini bukanlah sosok sembarangan, melainkan seorang panglima perang andalan Sultan Agung yang dikenal memiliki keberanian luar biasa serta strategi militer yang sangat cerdas.

Baca Juga: Sejarah Nganjuk: Taktik Licik VOC di Balik Runtuhnya Kadipaten Pace dan Jejak Lima Kekuasaan di Kota Angin

Kepala Bidang Kebudayaan Disporabudpar Kabupaten Nganjuk, Amin Fuadi, mengungkapkan bahwa Rangga Wirosroyo merupakan putra dari Adipati Cobalang.

Berkat loyalitas dan kecemerlangannya dalam membantu Mataram, khususnya dalam pertempuran heroik melawan VOC di Batavia, Sultan Agung menganugerahinya gelar Ngabehi Prasetyo Wijoyo.

Baca Juga: Bauhaus: Jejak Desain Revolusioner yang Membentuk Identitas dan Standar Desain Grafis Modern

Di era kepemimpinan Sultan Agung antara tahun 1613 hingga 1645 inilah, sangat dimungkinkan Rangga Wirosroyo ditunjuk secara resmi untuk mengemban amanah sebagai Adipati di Pace.

Meski demikian, Amin mengakui bahwa penentuan tahun secara pasti mengenai kapan dimulainya pemerintahan Wirosroyo di Pace memang belum terpatri kaku dalam angka tahun yang spesifik.

Baca Juga: Tari Lenggang Surabaya: Jejak Budaya dalam Gerak Sambut Tamu Istimewa Kota Pahlawan

Namun, eksistensi Pace sebagai entitas politik yang diperhitungkan semakin terlihat jelas dalam catatan sejarah kolonial. Nama Pace muncul dengan kuat dalam dokumentasi Perang Trunajaya yang meletus pada kurun waktu 1678 hingga 1679.

Berdasarkan catatan Belanda yang cukup detail, Kadipaten Pace diidentifikasi memiliki posisi politik yang tegas saat itu. Pace tercatat berdiri di pihak Trunajaya dalam pemberontakan melawan otoritas saat itu.

Baca Juga: Topeng Muludan: Merayakan Maulid Nabi dengan Kreativitas Topeng daur Ulang Anak Surabaya

Sikap politik inilah yang di kemudian hari membawa konsekuensi besar bagi keberlangsungan wilayah tersebut. Setelah melewati berbagai dinamika zaman, termasuk masa kepemimpinan Bupati Pace Bratakusuma, kadipaten ini akhirnya menemui titik akhir kedaulatannya.

Tepat pada tahun 1826, Kadipaten Pace resmi dilebur menjadi satu dengan Berbek. Amin Fuadi menjelaskan bahwa kebijakan peleburan ini mengakibatkan peta wilayah Nganjuk mengalami pergeseran signifikan.

Baca Juga: Larung Ari-Ari: Menghanyutkan Harapan dan Rasa Syukur ke Lautan untuk Sang Bayi

Tidak hanya menyatu dengan Berbek, sebagian wilayah yang dulunya berada di bawah administrasi Pace kini telah bertransformasi dan masuk ke dalam wilayah administratif Kediri. Penelusuran jejak Rangga Wirosroyo ini pun menjadi pengingat penting bahwa Nganjuk pernah menjadi panggung bagi para ksatria besar Mataram.

Editor : rekian
#sejarah Nganjuk #Kadipaten Pace #Rangga Wirosroyo #kerajaan mataram #pace