Reza Dwiki Luva Pradana tak pernah menduga hobinya membuat kepala barongan bisa menjadi ladang rezeki. Bahkan, kini dirinya berhasil menembus pasar nasional. Dengan omzet mencapai belasan juta per bulan.
“Tuk...tuk...tuk...,” terdengar suara ketukan dari sebuah gang sempit yang berada di Desa Kutorejo, Kecamatan Bagor. Suara itu terdengar dari rumah milik Reza Dwiki Luva Pradana. Usut punya usut, siang itu, pria yang akrab disapa Komo itu sedang memahat kayu dari pohon waru.
Kegiatan itu sudah dilakukan Komo sedari pagi hingga tengah hari. Tujuannya adalah satu. Yakni mengerjakan pesanan untuk membuat kepala barongan.
Ya benar, Komo adalah perajin kepala barongan. Kegiatan itu bahkan sudah dilakukan oleh Komo sejak bertahun-tahun yang lalu. “Saya sudah jadi pengrajin kepala barongan sejak lama. Tapi baru saya jual beberapa tahun terakhir,” ujarnya kepada wartawan koran ini.
Semua kisah sukses Komo sendiri bermula ketika dirinya masih duduk di bangku SMP. Kala itu, Komo sudah jatuh hati dengan dunia seni jaranan. Hingga suatu ketika, Komo ingin membuat kepala barongan.
Saat itu, Komo tak memiliki kemampuan dan modal yang cukup. Sehingga, dirinya hanya bisa belajar ala kadarnya dari sang ayah. Namun kemampuannya itu terus dia kembangkan hingga belasan tahun kemudian. “Saya sudah bikin kepala barongan dari masih SMP hingga sekarang usia 31 tahun,” tambah bapak tiga anak itu.
Singkat cerita, selama bertahun-tahun membuat kepala barongan, Komo lalu mulai menjual karya miliknya. Tak diduga karya-karya milik Komo banyak diminati oleh banyak orang. Bahkan, akibat hal itu, Komo selalu banjir pesanan. Setiap bulannya dia bisa membuat tiga hingga empat kepala barongan. “Satu bulan maksimal hanya bisa bikin empat. Selain karena memang lama, bahan baku pohon waru daun kecil itu sulit ditemukan,” tambahnya.
Banjir pesanan itu yang juga membuat Komo banjir pesanan. Bagaimana tidak, satu kepala barongan karyanya bisa dihargai Rp 3 juta hingga Rp 4 juta. Bahkan harga tersebut masih bisa naik ketika ada request tertentu. “Saya bisa banjir pesanan karena barongan saya tipe klasik. Sedangkan yang buat barongan klasik itu sudah jarang,” tandasnya.
Lebih lanjut, Komo menjelaskan, mayoritas orang yang beli di tempatnya bukan hanya berasal dari Kabupaten Nganjuk. Melainkan dari luar daerah hingga luar pulau. Seperti dari Kalimantan, Sulawesi, hingga Sumatera. “Mayoritas yang beli di tempat saya tidak hanya pemain barongan. Tapi juga kolektor,” pungkasnya. (wib/tyo)