Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Ekonomi & Bisnis Lifestyle Seni & Budaya Opini Khazanah

Legenda Air Terjun Sedudo, Cerita Rakyat yang Masih Hidup di Balik Ikon Wisata Nganjuk

Miko • Selasa, 7 Juli 2026 | 18:37 WIB
Sakral : Prosesi siraman memperingati 1 suro di wisata Air Terjun Sedudo, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk
Sakral : Prosesi siraman memperingati 1 suro di wisata Air Terjun Sedudo, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk

Legenda Air Terjun Sedudo, Cerita Rakyat dari Nganjuk

NGANJUK, Radar Nganjuk – Air Terjun Sedudo di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam paling populer di Jawa Timur. Berada di lereng Gunung Wilis, air terjun setinggi sekitar 105 meter ini tak hanya memikat karena panorama alamnya, tetapi juga memiliki cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Hingga kini, Air Terjun Sedudo menjadi lokasi penyelenggaraan Tradisi Siraman Sedudo setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Tradisi tersebut menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Nganjuk yang masih dilestarikan.

Asal Usul Nama Sedudo dalam Cerita Rakyat

Menurut cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, nama Sedudo berasal dari kata "dudo" atau duda.

Konon, pada masa lampau hiduplah seorang tokoh bernama Begawan bersama istrinya, Dewi Sri, dan adik iparnya, Barata, di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Ngliman.

Keluarga tersebut dikenal sebagai sosok yang bijaksana, taat beragama, serta gemar membantu masyarakat sekitar sehingga dihormati sebagai panutan.

Namun seiring berjalannya waktu, Barata diceritakan mulai berubah sikap. Ia disebut tidak lagi peduli kepada sesama hingga memicu perselisihan dengan Begawan.

Perbedaan pandangan itu akhirnya membuat hubungan mereka retak. Begawan meminta Barata meninggalkan rumah karena merasa mereka tidak lagi memiliki jalan hidup yang sama.

Begawan Hidup Seorang Diri

Keputusan tersebut membuat Dewi Sri berada dalam dilema antara tetap mendampingi suaminya atau mencari sang adik.

Dalam cerita yang berkembang, Dewi Sri akhirnya memilih pergi untuk mencari Barata.

Sejak saat itu, Begawan hidup seorang diri sebagai duda. Ia kemudian memilih mengasingkan diri dan bertapa di bawah air terjun sambil berdoa memohon petunjuk kepada Tuhan.

Dari kisah inilah masyarakat kemudian mengaitkan asal-usul nama Air Terjun Sedudo.

Tradisi Siraman Sedudo

Cerita rakyat tersebut juga menjadi salah satu latar munculnya Tradisi Siraman Sedudo yang hingga kini masih digelar setiap Tahun Baru Jawa atau bulan Suro.

Sebagian masyarakat meyakini mandi di bawah Air Terjun Sedudo pada momen tersebut membawa harapan akan kesehatan, keselamatan, dan umur panjang.

Perlu dipahami bahwa keyakinan tersebut merupakan bagian dari tradisi budaya dan cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat. Tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa ritual tersebut dapat memberikan manfaat seperti yang diyakini dalam cerita turun-temurun.

Air Terjun Sedudo Tetap Menjadi Ikon Wisata Nganjuk

Terlepas dari legenda yang menyertainya, Air Terjun Sedudo tetap menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Nganjuk.

Keindahan alam, udara pegunungan yang sejuk, serta nilai budaya yang masih terjaga menjadikan tempat ini selalu ramai dikunjungi wisatawan, terutama saat libur panjang dan pelaksanaan Tradisi Siraman Sedudo.

Perpaduan panorama alam dan cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat membuat Air Terjun Sedudo tidak hanya menjadi tempat berwisata, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya Kabupaten Nganjuk.

Editor : Miko
#Legenda Sedudo #Tradisi Siraman Sedudo #Cerita Rakyat Nganjuk #Air Terjun Sedudo #wisata nganjuk