NGANJUK.RADARNGANJUK.JAWAPOS.COM- Aset hibah senilai ratusan juta dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kini semakin miris. Mobil bioskop keliling di Kabupaten Nganjuk yang dulu aktif menyapa sekolah dan desa, kini jarang beroperasi karena terkendala biaya dan administrasi.
Mobil bermesin diesel itu tiba di Museum Anjuk Ladang pada 2015. Saat awal beroperasi, kendaraan lengkap dengan layar lebar, proyektor, dan sound system ini mampu melayani hingga 5 kali pemutaran dalam sebulan.
Baca Juga: Meriahkan Karnaval Budaya Nganjuk: SMPN 2 Usung Kerajaan Mataram, SMPN 4 Pilih Tampilkan Blambangan
Tujuannya satu, membawa edukasi sejarah dan budaya ke daerah yang minim akses audiovisual.
Namun kondisi berubah sejak 2020. Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk mengaku tidak lagi sanggup menanggung biaya operasional.
"Memang begitu keadaannya sekarang," kata Kepala Bidang Kebudayaan Disporabudpar, Amin Fuadi, Rabu (12/8/2026).
Baca Juga: Museum Anjuk Ladang, Wisata Sejarah dan Budaya di Nganjuk yang Wajib Dikunjungi
Masalah makin runyam karena status administrasi. Plat merah kendaraan yang seharusnya diperpanjang pada 2020 hingga kini belum diperbarui. Akibatnya, mobil tersebut menunggak pajak hingga 2026.
Dampaknya langsung terasa. Layanan yang dulu gratis kini berbayar. Sekolah atau instansi yang ingin "nanggap" bioskop keliling diwajibkan menanggung biaya bahan bakar sendiri.
Kebijakan ini membuat akses terbatas, terutama bagi sekolah dan desa dengan anggaran pas-pasan.
Baca Juga: DPRD Nganjuk Bahas Raperda Pelestarian Cagar Budaya
Kondisi ini memicu keprihatinan. guru dan pemerhati budaya menilai terhentinya layanan berarti hilangnya salah satu media edukasi non-formal ke wilayah terpencil.
Mereka mendorong Pemkab Nganjuk segera mencari solusi. Opsi yang disarankan antara lain penganggaran ulang APBD, menggandeng sponsor atau CSR, hingga membentuk relawan pengelola.
Baca Juga: Wayang Potehi: Akulturasi Budaya Tionghoa dalam Seni Boneka Kantong Kain di Surabaya
Tanpa langkah konkret, mobil bioskop keliling yang dulu jadi simbol komitmen literasi budaya terancam menjadi "besi tua". Ini menjadi cermin: aset hibah bernilai tinggi bisa sia-sia tanpa perencanaan pembiayaan dan perawatan jangka panjang.
Editor : rekian