Uri-Uri Budaya di Dusun Sumberwaru Nganjuk, Cara Warga Merawat Kebersamaan lewat Encek

rekian • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 04:42 WIB
Panitia membagikan lecek kepada Warga Dusun Sumberwaru sebelum doa bersama.
Panitia membagikan encek kepada Warga Dusun Sumberwaru sebelum doa bersama.

 

TANJUNGANOM, radarnganjuk.jawapos.com– Suasana gotong-royong dan kehangatan terasa begitu kental di Dusun Sumberwaru, Desa Banjaranyar, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk.

Warga setempat menggelar tradisi Bersih Dusun yang telah berlangsung secara turun-temurun puluhan tahun lalu.

Tradisi ini tak hanya menjadi ajang syukuran, tetapi juga simbol kuatnya ikatan sosial dan kebersamaan yang terus dirawat oleh masyarakat setempat hingga kini.

Ciri khas utama yang membedakan tradisi bersih dusun di Sumberwaru, Desa Banjaranyar, Nganjuk dengan dusun lainnya terletak pada penggunaan wadah bernama encek.

Encek adalah wadah berbahan bambu berukuran presisi satu meter kali satu meter yang disiapkan oleh setiap kepala keluarga sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam tradisi ini, diterapkan konsep lajer, di mana setiap satu kepala keluarga diwajibkan membawa satu encek.

Bahkan dalam satu rumah yang dihuni oleh beberapa kepala keluarga, masing-masing tetap membawa enceknya sendiri.

"Kali ini, ada 125 ingkung ayam panggang yang terkumpul dari seluruh warga," ungkap Istikomah, Kepala Dusun Sumberwaru, Desa Banjaranyar, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. 

Jumlah yang fantastis dan mencerminkan antusiasme serta kekompakan masyarakaat.

Anak-anak antusias mengikuti bersih dusun di Dusun Sumberwaru yang sederhana tapi syarat makna.
Anak-anak antusias mengikuti bersih dusun di Dusun Sumberwaru yang sederhana tapi syarat makna.

 

Isi di dalam encek bukanlah sembarang makanan, melainkan memiliki aturan dan simbolisme yang sarat makna.

Hidangan utama wajib berupa ingkung ayam panggang, yang melambangkan kesucian dan rasa syukur.

Selain itu, ada kudapan ketan seperti jadah, wajik, atau jenang yang melambangkan kelekatan dan keharmonisan.

Pisang sebanyak satu tangkep atau dua sisir juga wajib hadir sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran.

Berbagai jajanan pasar turut melengkapi sebagai sajian pendamping.

Semua komposisi ini bukan sekadar makanan, tetapi sarat akan pesan moral dan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur.

Istikomah mengungkapkan tradisi ini adalah warisan budaya yang harus dijaga.

"Dulu sajian hanya ingkung dan ketan, kini lebih variatif dengan tambahan jajanan pasar dan pisang dua sisir. Tapi esensinya tetap sama, yaitu rasa syukur dan kebersamaan," ujarnya.

Perubahan ini tidak mengurangi nilai sakral tradisi, justru menunjukkan bahwa budaya bisa berkembang tanpa kehilangan akarnya.

Kepala Desa Banjaranyar Samsul Anam (baju hitam berpeci) memberi support kepada warga yang konsisten menjaga tradisi dari nenek moyang dahulu.
Kepala Desa Banjaranyar Samsul Anam (baju hitam berpeci) memberi support kepada warga yang konsisten menjaga tradisi dari nenek moyang dahulu.

 

Sementara itu,  Kepala Desa Banjaranyar, Samsul Anam, tradisi ini memiliki filosofi yang dalam.

Setelah prosesi doa usai, seluruh hidangan dalam encek dibagikan kembali secara merata kepada masyarakat.

Sistem pembagiannya disesuaikan, satu encek bisa dibagi untuk empat orang dewasa atau hingga enam bagian untuk anak-anak.

"Penggunaan sajian ketan yang lengket memiliki simbolisme mendalam untuk mempererat tali silaturahmi dan merekatkan ikatan batin antarwarga," jelas Samsul.

Keseragaman ukuran encek dan kekompakan warga dalam menyiapkan 125 ingkung menjadi bukti nyata semangat guyub rukun yang masih terjaga.

Di tengah arus modernisasi, Dusun Sumberwaru membuktikan bahwa tradisi bisa menjadi jembatan yang merekatkan generasi, sekaligus menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah kekuatan terbesar sebuah komunitas.

Editor : rekian
Bersih Dusun Sumberwaru Tradisi Nganjuk Budaya Nganjuk Encek Banjaranyar Tanjunganom