Mengenal Joko Aji Waluyo Dalang Gen Z Asal Nganjuk, Latihan Pakai Sandal karena Tak Punya Wayang

Novanda Nirwana • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 20:09 WIB
DALANG MUDA: Joko Aji Waluyo saat pentas. Dia berlatih pakai sandal di waktu kecil. (novanda nirwana/jprk).
DALANG MUDA: Joko Aji Waluyo saat pentas. Dia berlatih pakai sandal di waktu kecil. (novanda nirwana/jprk).

Wayang menjadi bagian dari keseharian Joko Aji Waluyo, 26. Pemuda asal Kecamatan Nganjuk itu memainkan tokoh demi tokoh dalam setiap pertunjukan. Usianya masih tergolong muda, tetapi kecintaannya terhadap pedalangan telah tumbuh sejak di bangku TK.

NOVANDA NIRWANA - NGANJUK, JP Radar Nganjuk

Sandal menjadi sarana Joko kecil saat belum memiliki wayang. Keterbatasan biaya membuatnya belum dapat mengikuti latihan pedalangan. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan ketertarikannya. 

Dengan benda sederhana yang ada di sekitar, Joko berusaha membangun dunianya sendiri. Sandal dibuat seolah-olah menjadi tokoh wayang. Imajinasi tersebut menjadi cara Joko untuk tetap dekat dengan dunia yang sejak kecil membuatnya tertarik.

Ketertarikan itu tumbuh di tengah perjalanan keluarga yang tidak sederhana. Joko berasal dari keluarga broken home.

Dia kemudian tinggal bersama neneknya yang memiliki latar belakang seni.

Lingkungan tersebut ikut memperkenalkan Joko lebih dekat dengan dunia kesenian. Dari sekadar menyukai pertunjukan wayang, keinginannya perlahan berkembang menjadi cita-cita untuk menjadi dalang. "Sejak TK sebenarnya sudah suka dalang. Kebetulan nenek saya juga punya latar belakang seni," ujar Joko.

Kesempatan untuk belajar pedalangan secara lebih serius baru didapat ketika dia duduk di bangku SMP. Joko mulai berlatih bersama seorang guru. Dari latihan tersebut, kemampuan yang sebelumnya hanya disalurkan melalui permainan mulai diasah secara langsung.

Memasuki SMA, Joko semakin mengembangkan bakatnya. Dia juga mendapat pengalaman tambahan karena sang ayah ternyata merupakan seorang dalang.  "Beberapa saya juga menemani bapak ketika mendapat tanggapan," paparnya. 

Dari sana, dia melihat dunia pedalangan dari jarak yang lebih dekat. Bukan hanya tentang memainkan wayang, tetapi juga bagaimana seorang dalang mempersiapkan diri sebelum pertunjukan hingga menjalani pentas di hadapan penonton.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan pilihannya. Joko kemudian melanjutkan pendidikan ke Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Dia mengambil jurusan Seni Pedalangan untuk memperdalam kemampuan yang telah digelutinya sejak kecil.

Bagi Joko, kemampuan menjadi dalang bukan semata-mata persoalan bakat. Ada proses panjang yang harus dilewati untuk membentuk seorang dalang. Latihan dan pengalaman menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan. "Ketika tahu punya bakat di dalang, dalang itu bukan dilahirkan, tapi diciptakan," katanya.

Nama panggung Joko Adi Pranowo yang kini digunakannya juga tidak muncul begitu saja. Nama tersebut diberikan oleh sang nenek, sosok yang sejak kecil ikut menjadi bagian penting dalam perjalanan Joko mengenal dunia seni.

Kini, Joko telah menjalani aktivitas sebagai dalang panggilan. Dia bergabung dengan grup Kamulyan Laras dan beberapa kali tampil dalam berbagai kegiatan masyarakat maupun lembaga pendidikan.

Panggungnya beragam. Mulai dari acara dies natalis sekolah, kegiatan Suro, hingga tradisi nyadran. Tidak selalu pertunjukan dengan panggung besar, tetapi setiap pentas menjadi kesempatan baginya untuk tetap memainkan wayang sekaligus mengenalkan seni pedalangan kepada penonton.

Menjadi dalang juga bukan satu-satunya kesibukan Joko. Di luar panggung, dia menjalani profesi sebagai guru. Joko mengajar di tingkat SMP dan SMK dengan mengajar mata pelajaran seni rupa serta bahasa Jawa.

Dua profesi tersebut membuat kesehariannya berjalan dengan ritme yang tidak selalu sama. Bahkan, tidak jarang Joko selesai menjalani tanggapan wayang pada malam hari dan keesokan paginya langsung mengajar. Pola tersebut sudah menjadi bagian dari kesehariannya. "Pernah dulu malam ada tanggapan wayang, terus paginya lanjut mengajar. Ya sudah biasa itu," pungkasnya. 

Editor : rekian
Dalang Gen Z Joko Aji Waluyo Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Nama panggung Joko Adi Pranowo Kabupaten Nganjuk