NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Mengintip Komunitas Nganjuk Ilustrasi
Wadah untuk Belajar dan Berbagi Ilmu Seniman Kota Angin Tak hanya Bali dan Jogjakarta yang punya segudang seniman andal. Anak-anak Kabupaten Nganjuk juga banyak memiliki seniman berbakat. Mereka tergabung dalam Komunitas Nganjuk Ilustrasi.
Komunitas Nganjuk Ilustrasi ini biasa disebut Ngilustrasi. Salah satu pendirinya adalah Lokananta Wibisino, 26, warga Desa Werungotok, Kecamatan Nganjuk. Loka, panggilan akrab Lokananta mengatakan, komunitas ini berdiri sekitar satu tahun lalu. Saat itu Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk mengadakan event pameran. “Saat itu kami kolaborasi bersama ISI Jogja, itu sekitar November 2022 di gedung Mpu Sindhok,” tuturnya.
Setelah dari pameran tersebut Loka, Zamrudi Indra Husada, Galih Tri Atmaja, Brian Sena, Septya Dewi, dan Wardana Daffa ingin mendirikan komunitas sebagai wadah bagi para pemuda Nganjuk yang ingin belajar seni dan ilustrasi. “Kami mengambil Ngilustrasi dari kata Nganjuk ilustrasi yang disingkat. Sehingga penyebutan bahasanya lebih mengokal bahasa Jawa,” tuturnya menjelaskan nama komunitasnya.
Saat ini anggotanya sudah sekitar 25 orang dari kalangan remaja dan pemuda yang memang menyukai dunia lukis dan ilustrasi. Tak hanya komunitas kumpulnya anak-anak pencinta seni, melainkan sebagai wadah mereka belajar dan berbagi ilmu. “Kami dari berbagai genre lukisan jadi satu, ada yang memang melukis dengan cat air, akrilik, ada pula yang desain grafis,” imbuhnya.
Semua style seniman yang ingin bergabung dia himpun dengan tujuan antar anggota bisa belajar satu sama lain. Selain itu komunitas nganjuk ilustrasi ini ingin lebih inklusif dan beragam. “Jadi ketika kami berkumpul itu saling sharing, belajar style satu sama lain,” ujar lulusan ISI Jogja itu.
Hal itu dikarenakan anggota yang bergabung tidak semua expert, bahkan ada yang masih tahap belajar. Sebagai komunitas yang baru berdiri satu tahun, dia berupaya agar Ngilustrasi lebih dikenal oleh masyarakat.
Salah satunya dengan mengadakan pameran karya. Pameran pertama yang mereka gelar bertajuk “Nggambar Kucheng”. Puluhan lukisan karya bergambar kucing itu ditempel di dinding galeri seninya di Jalan Diponegoro IX, Ganungkidul. Butuh sekitar 2 minggu untuk mengumpulkan karya-karya dari warga Kota Angin. “Ini ada sekitar 50 karya gambar kucing dari warga Nganjuk. Karya termuda usia 8 tahun,” ujarnya.
Ke depan, dia ingin komunitas ini lebih memanfaatkan ruang publik untuk mengenalkan komunitas Ngilustrasi ke masyarakat. Misalnya pameran di ruang publik seperti car free day (CFD) hari Minggu. “Rencana untuk memanfaatkan ruang publik pasti ada sehingga nanti harapannya masyarakat Nganjuk tahu kalau di Nganjuk itu ada komunitas seni, bisa mengekspresikan karya dan tentunya menghasilkan anak-anak muda yang lebih kreatif,” ungkapnya.
Konsumen Tembus Pasar Nasional
Lokananta Wibisono adalah salah satu desainer yang andal di Nganjuk. Loka mampu membuat ilustrasi dan desain grafis yang bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah. Bahkan karyanya sudah dipesan hampir di seluruh Nusantara.Pria Kelahiran 1997 itu memang menyukai seni sejak kecil. Darah seni mengalir dari sang ayah. “Sejak sebelum TK, saya sudah suka gambar-gambar, lalu mulai belajar secara otodidak,” tuturnya.
Saat ini, dia lebih menekuni ilustrasi desain grafis. Namun bukan berarti tidak bisa menggambar secara manual.Meski sempat mendapatkan penolakan dari orang tua, Loka akhirnya bisa meraih cita-citanya sebagai seniman. “Dulu sempat ada penolakan saat saya ingin kuliah di ISI Jogja, kemudian orang tua akhirnya mendukung dengan konsekuensi saya harus bisa bertanggung jawab atas pilihan saya itu,” kenang anak pertama dari 3 bersaudara itu.
Terlebih saat ini sudah bisa mendapatkan pemasukan dari pembuatan desain grafisnya. “Klien saya sudah hampir seluruh Indonesia, tapi paling sering itu daerah yang memang kental dengan budaya seperti Jogjakarta,” tuturnya.
Bahkan Bandara Internasional Jogjakarta itu pernah memesan karya desain grafisnya untuk wallpaper salah satu dinding dengan panjang 15 meter dengan harga Rp 10 juta.
Kepiawaiannya mendesain grafis ini membuat Loka semakin punya banyak relasi. Dia juga sempat menjadi dosen tamu di ISI Jogjakarta dan Universitas Duta Wacana Jogjakarta untuk berbagi ilmu dasar menggambar sketsa ruang publik. “Mengajar di workshop juga untuk berbagi ilmu dan pengalaman menjadi seorang desainer grafis,” tuturnya.
Selain itu, rata-rata dalam satu bulan bisa ada 5-10 orang yang order jasa desain grafisnya. Biasanya untuk branding untuk produk dan jasa, meliputi F&B dan kebutuhan untuk media promosi. “Beberapa kafe yang saat viral di Nganjuk itu adalah klien saya. Kalau untuk harga yang saya tawarkan itu bergantung dengan kebutuhan desain yang diinginkan klien sendiri,” tandasnya.
Disporabudpar Mendukung karena Masuk Kategori Ekonomi Kreatif
Komunitas Nganjuk Ilustrasi (Ngilustrasi) ini tergolong komunitas baru. Namun, mereka sudah di bawah naungan Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk. “Kami sudah tergabung di Nganjuk Creative Community yang mana komunitas itu di bawah naungan disporabudpar,” ujar Lokananta Wibisono, 26, pendiri Ngilustrasi.
Bahkan karya-karya dari Ngilustrasi beberapa dipamerkan oleh Disporabudpar ke pameran-pameran. Pernah dipamerkan di TMII yang dihadiri oleh seluruh pejabat di seluruh Indonesia.
Loka juga bersyukur Pemkab Nganjuk bisa memberikan perhatian kepada anak-anak muda di Nganjuk untuk berkembang terutama di industri kreatif. Ia yakin support dari pemerintah daerah bukan hanya berdampak individu komunitas melainkan juga nama daerah Nganjuk. “Semua daerah harus tahu bahwa Nganjuk juga banyak seniman hebat,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Disporabudpar Kabupaten Nganjuk Sri Handariningsih mengatakan, pihaknya saat ini memang tengah berupaya menumbuhkan iklim ekraf di Kota Angin. Setidaknya, ada 17 sub sektor yang dibina. Antara lain kriya, seni lukis, fesyen, musik, pertunjukan, kuliner, broadcasting, dan film, desain grafis, e-sports, penerbitan, maupun periklanan. “Kami wadahi dalam Nganjuk Creative Hub, ruang bertumbuh 17 sub sektor di bawah binaan kami. Semoga generasi kreatif Nganjuk semakin berkembang,” jelasnya.
Ia menjelaskan ekonomi kreatif adalah konsep ekonomi yang menenkankan pada kreativitas dan informasi. Ekonomi kreatif mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.
“Jadi, ekonomi kreatif itu bukan UMKM atau PKL, akan tetapi sebuah karya jasa produk dari pelaku yang punya velue atau nilai kreativitas,” terangnya.
Handariningsih berharap, anak-anak muda di Nganjuk tetap semangat mengasah skill terutama di bidang industri kreatif. Karena itu bisa menjadi sumber penghasilan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk