Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Inilah Inovasi Lesbumi NU Nganjuk di di Harlah Ke-101 Nahdlatul Ulama

Iqbal Syahroni • Senin, 29 Januari 2024 | 19:31 WIB
Photo
Photo

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Inovasi Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Nganjuk di Harlah Ke-101 Nahdlatul Ulama Perjuangan ‘Sunan Kali Brantas’ Sebarkan Islam di Kota Angin Satu bulan lalu, Media Center NU mengeluarkan trailer film berjudul Sunan Kali Brantas berdurasi kurang dari empat menit. Hingga Sabtu (27/1), film yang digarap Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama Cabang Nganjuk itu sudah ditonton hampir tujuh ribu penonton. Diperankan oleh warga nahdliyin dan kiai NU Nganjuk, film ini akan menjadi syiar Agama Islam dan menjadi hadiah di harlah ke-101 NU.

“Ide awal untuk membuat film (Sunan Kali Brantas, Red) sudah dari 2019 lalu, dieksekusi juga di tahun itu dan baru rampung tahun ini,” aku Pembina Lesbumi NU Kabupaten Nganjuk Subhan Abu Rizal.

Butuh kerja keras menuntaskan film yang menceritakan tentang awal mula penyebaran Agama Islam di Kota Angin tersebut. Sebab, pengambilan gambar sempat berhenti pada 2020. Saat itu, badai pagebluk Covid-19 mulai melanda Kota Angin.

Produksi film pun dipaksa setop hingga tiga tahun. “Skripnya tidak berubah dan hanya produksinya yang berhenti,” ungkap pria yang kerap disapa Subhan.
Selama 3 tahun, Lesbumi NU yang diketuai oleh Luqman Surya masih menyimpan asa. Film Sunan Kali Brantas itu harus tetap diproduksi. Alasannya, film ini sarat dengan nilai budaya dan sejarah yang mungkin sudah tenggelam dan terlupakan.

Setelah ada pencabutan Covid-19 pada awal 2023 lalu, produksi film Kali Brantas ini kembali dilanjutkan. “Mulai take gambar lagi Juni 2023. Selesainya sekitar September atau Oktober. Inginnya selesai pas hari santri Oktober lalu tapi tidak terkejar. Ini baru rampung Desember 2023 kemarin,” ungkap lelaki asal Warujayeng, Tanjunganom itu.

Film diproduseri Luqman itu baru ditayangkan pada Desember 2023. Ini menjadi kebanggaan bagi Lesbumi Nganjuk dan PCNU Kabupaten Nganjuk karena menjadi cabang NU yang pertama di Indonesia sukses membuat film sendiri. “Mungkin ini jadi satu-satunya cabang NU di seluruh Indonesia (yang produksi film, Red),” ungkap Subhan yang menjadi eksekutif produser dalam film tersebut.

Dia menambahkan, film ini melibatkan masyarakat Nganjuk, termasuk seluruh anggota PCNU dan Lesbumi Nganjuk untuk menjadi pemain maupun figuran. Yang menarik, Rois Syuriyah KH Ali Mustofa Said juga berperan besar menjadi tokoh utama Sunan Kali Brantas. “Alhamdulillah, film ini akhirnya bisa selesai dan sudah mulai ditayangkan. Kami berharap, film ini bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, tentang sejarah dan budaya Islam di Nganjuk,” pungkas pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Cabang NU (PCNU) Nganjuk. (syi/rq)

Bertarung Sengit dengan Nyai Plencing di Singkal Siapa sebenarnya Sunan Kali Brantas? Nama itu merupakan sebutan untuk Sunan Bonang. Warga Kota Angin menjulukinya sebagai Sunan Kali Brantas karena aktivitasnya menyebarkan agama Islam di Nganjuk berada di sekitar sungai terpanjang di Jawa Timur.

Salah satu adegan penting di film itu adalah ketika Sunan Kali Brantas dihadang Nyai Plencing, penguasa ilmu hitam di Desa Singkalanyar, Kecamatan Prambon. Adegan tersebut menceritakan kisah Sunan Bonang yang hendak berziarah ke Syekh Wasil Setonogedong, Kediri. Saat melintas Desa Singkalanyar, Prambon, ia bertemu dengan Nyai Plencing. Perempuan berambut merah itu menghalangi perjalanannya. ”Dari referensi di buku, Desa Singkal (sekarang Desa Singkalanyar, Red), Kecamatan Prambon itu masuk di wilayah Kediri. Nama Singkal ini itu ya Desa Singkalanyar, Prambon,” ungkap Subhan Abu Rizal, Executive Producer Film Sunan Kali Brantas.

Ia mengatakan saat itu, kedatangan Sunan Bonang atau Raden Maulana Makdum Ibrahim ke Nganjuk karena hendak menuju ke Kediri. Perjalanan yang dipilih Sunan Bonang kala itu adalah menyisir Sungai Brantas dari Tuban menu

ju ke Kediri. Perjalanan melalui sungai itulah yang kemudian melekat padanya menjadi Sunan Kali Brantas.

Perjalanan Sunan Bonang di Nganjuk mulai dari Kertosono lalu ke Ngronggot dan Tanjunganom hingga sampai ke Prambon. Setibanya di Prambon, kecamatan yang terletak di perbatasan Kediri, ia melihat perilaku warga di sana jauh dari nilai-nilai ajaran agama Islam.

ju ke Kediri. Perjalanan melalui sungai itulah yang kemudian melekat padanya menjadi Sunan Kali Brantas.

Perjalanan Sunan Bonang di Nganjuk mulai dari Kertosono lalu ke Ngronggot dan Tanjunganom hingga sampai ke Prambon. Setibanya di Prambon, kecamatan yang terletak di perbatasan Kediri, ia melihat perilaku warga di sana jauh dari nilai-nilai ajaran agama Islam.
Cerita tersebut diambil dari Buku Sejarah Masuknya Islam di Nganjuk dan Buku Jawa Kuno bernama Darma Gandul. Ketika itu, Sunan Bonang melihat banyak kegiatan tak terpuji. Mulai dari berjudi, sabung ayam, miras, hingga perbuatan yang melanggar norma agama lainnya.
Sambil beristirahat di Desa Singkalanyar, Kecamatan Prambon, Sunan Bonang juga akan berdakwah di sana. Keinginannya itu menyiarkan agama mendapat perlawanan. Dia harus menghadapi seorang perempuan yang dikenal sebagai ratu ilmu hitam di sana. Namanya Nyai Plencing.
Nyai Plencing tidak suka kedatangan Sunan Bonang yang dianggapnya telah mengusik kehidupan masyarakat di Desa Singkal dengan ilmu agama. ”Diceritakan dalam film, beberapa kali Sunan Bonang atau Sunan Kali Brantas ini bertarung dengan Nyai Plencing,” imbuh Subhan.
Saat berada di Desa Singkal, Sunan Bonang memilih tinggal di pinggiran Sungai Brantas. Nama Sunan Bonang pun semakin kondang dengan sebutan Sunan Kali Brantas. ”Itulah kenapa film ini dinamakan Sunan Kali Brantas. Karena memang menceritakan keaswajaan Sunan Bonang di Nganjuk,” pungkasnya. (syi/rq)

Jadi Tontonan Wajib Warga Nahdliyin
Pembuatan film Sunan Kali Brantas ini bertujuan untuk memperkenalkan perjuangan Sunan Bonang ketika menyebarkan agama Islam di Kota Angin. Serta dapat meningkatkan dan menyebarkan nilai keaswajaan bagi warga Nahdliyin.
Hingga kemarin, pemutaran film ini hanya dilakukan di lingkungan PCNU Kabupaten Nganjuk saja. ”Sekitar dua minggu yang lalu sejak akhir 2023, pemutaran film Sunan Kali Brantas dilakukan di tiap kantor MWC NU di Kabupaten Nganjuk,” ungkap Subhan Abu Rizal, Wakil Ketua PCNU Nganjuk.

Seperti di MWC NU Rejoso, pemutaran film kolosal itu diputar pada 9 Januari lalu. Pemutaran film Sunan Kali Brantas ini menjadi tontonan wajib bagi nahdliyin untuk mengenal sejarah awal masuknya Islam. Yang disebarkan oleh Sunan Bonang di tepian Sungai Brantas.
Meskipun sasaran utamanya adalah film ini adalah warga Nahdliyin, masyarakat umum juga bisa menikmatinya. Kenapa tidak ditayangkan di bioskop agar masyarakat yang menonton lebih banyak? Subhan mengatakan, prosesnya tidak mudah ada ketentuan penayangan. ”Kami belum mengerti tata caranya, yang kami ketahui, itu biasanya harus melalui rumah produksi dan semacamnya,” imbuhnya. Di antara syarat tersebut adalah resolusi minimal 2K dan harus lulus sensor.

Film Sunan Kali Brantas ini 100 persen digarap Lesbumi Nganjuk. Tidak ada campur tangan rumah produksi. Bahkan pemeran, pembuat skrip, produser, hingga sutradaranya semua berasal dari anak-anak Kota Angin.

Selain memperkenalkan perjuangan Sunan Bonang menyebarkan agama Islam di Kota Angin. Lesbuni Nganjuk juga ingin mengangkat cerita rakyat di Desa Singkalanyar. Karena warga di sanalah yang memberi julukan Sunan Bonang sebagai Sunan Kali Brantas.
Sementara itu, Bramastya Adytya, 27, salah satu pengurus DKC CBP KPP IPNU IPNU Nganjuk baru mengetahui ada Sunan yang bernama Sunan Kali Brantas. ”Pertama kali mendengar ada ide membuat film Sunan Kali Brantas, saya juga bertanya-tanya. Belum pernah ada Walisongo yang bernama seperti itu,” ungkapnya.

Namun setelah dijelaskan lewat buku-buku sejarah dan menonton film garapan Lesbumi Nganjuk, Bram-panggilan akrabnya- baru memahami maksudnya. Dia mengaku, film tersebut telah menambah pengetahuan baru tentang sejarah Walisongo di Nganjuk. ”Baru tahu jika Sunan Bonang itu saat di Nganjuk dipanggil warga sekitar sebagai Sunan Kali Brantas,” ungkapnya.
Dari satu film itu saja, ia merasa ingin menggali informasi dan sejarah lebih dalam lagi tentang kedatangan Sunan Bonang atau Sunan Kali Brantas saat melewati Nganjuk. Salah satunya dari cerita rakyat yang mengatakan Sunan Bonang mengubah arus Kali Brantas yang semula mengalir ke barat di wilayah Nganjuk, berganti ke Timur. 

a tersebut diambil dari Buku Sejarah Masuknya Islam di Nganjuk dan Buku Jawa Kuno bernama Darma Gandul. Ketika itu, Sunan Bonang melihat banyak kegiatan tak terpuji. Mulai dari berjudi, sabung ayam, miras, hingga perbuatan yang melanggar norma agama lainnya.
Sambil beristirahat di Desa Singkalanyar, Kecamatan Prambon, Sunan Bonang juga akan berdakwah di sana. Keinginannya itu menyiarkan agama mendapat perlawanan. Dia harus menghadapi seorang perempuan yang dikenal sebagai ratu ilmu hitam di sana. Namanya Nyai Plencing.

Nyai Plencing tidak suka kedatangan Sunan Bonang yang dianggapnya telah mengusik kehidupan masyarakat di Desa Singkal dengan ilmu agama. ”Diceritakan dalam film, beberapa kali Sunan Bonang atau Sunan Kali Brantas ini bertarung dengan Nyai Plencing,” imbuh Subhan.
Saat berada di Desa Singkal, Sunan Bonang memilih tinggal di pinggiran Sungai Brantas. Nama Sunan Bonang pun semakin kondang dengan sebutan Sunan Kali Brantas. ”Itulah kenapa film ini dinamakan Sunan Kali Brantas. Karena memang menceritakan keaswajaan Sunan Bonang di Nganjuk,” pungkasnya. (syi/rq)

Jadi Tontonan Wajib Warga Nahdliyin
Pembuatan film Sunan Kali Brantas ini bertujuan untuk memperkenalkan perjuangan Sunan Bonang ketika menyebarkan agama Islam di Kota Angin. Serta dapat meningkatkan dan menyebarkan nilai keaswajaan bagi warga Nahdliyin.
Hingga kemarin, pemutaran film ini hanya dilakukan di lingkungan PCNU Kabupaten Nganjuk saja. ”Sekitar dua minggu yang lalu sejak akhir 2023, pemutaran film Sunan Kali Brantas dilakukan di tiap kantor MWC NU di Kabupaten Nganjuk,” ungkap Subhan Abu Rizal, Wakil Ketua PCNU Nganjuk.

Seperti di MWC NU Rejoso, pemutaran film kolosal itu diputar pada 9 Januari lalu. Pemutaran film Sunan Kali Brantas ini menjadi tontonan wajib bagi nahdliyin untuk mengenal sejarah awal masuknya Islam. Yang disebarkan oleh Sunan Bonang di tepian Sungai Brantas.
Meskipun sasaran utamanya adalah film ini adalah warga Nahdliyin, masyarakat umum juga bisa menikmatinya. Kenapa tidak ditayangkan di bioskop agar masyarakat yang menonton lebih banyak? Subhan mengatakan, prosesnya tidak mudah ada ketentuan penayangan. ”Kami belum mengerti tata caranya, yang kami ketahui, itu biasanya harus melalui rumah produksi dan semacamnya,” imbuhnya. Di antara syarat tersebut adalah resolusi minimal 2K dan harus lulus sensor.

Film Sunan Kali Brantas ini 100 persen digarap Lesbumi Nganjuk. Tidak ada campur tangan rumah produksi. Bahkan pemeran, pembuat skrip, produser, hingga sutradaranya semua berasal dari anak-anak Kota Angin.

Selain memperkenalkan perjuangan Sunan Bonang menyebarkan agama Islam di Kota Angin. Lesbuni Nganjuk juga ingin mengangkat cerita rakyat di Desa Singkalanyar. Karena warga di sanalah yang memberi julukan Sunan Bonang sebagai Sunan Kali Brantas.
Sementara itu, Bramastya Adytya, 27, salah satu pengurus DKC CBP KPP IPNU IPNU Nganjuk baru mengetahui ada Sunan yang bernama Sunan Kali Brantas. ”Pertama kali mendengar ada ide membuat film Sunan Kali Brantas, saya juga bertanya-tanya. Belum pernah ada Walisongo yang bernama seperti itu,” ungkapnya.

Namun setelah dijelaskan lewat buku-buku sejarah dan menonton film garapan Lesbumi Nganjuk, Bram-panggilan akrabnya- baru memahami maksudnya. Dia mengaku, film tersebut telah menambah pengetahuan baru tentang sejarah Walisongo di Nganjuk. ”Baru tahu jika Sunan Bonang itu saat di Nganjuk dipanggil warga sekitar sebagai Sunan Kali Brantas,” ungkapnya.
Dari satu film itu saja, ia merasa ingin menggali informasi dan sejarah lebih dalam lagi tentang kedatangan Sunan Bonang atau Sunan Kali Brantas saat melewati Nganjuk. Salah satunya dari cerita rakyat yang mengatakan Sunan Bonang mengubah arus Kali Brantas yang semula mengalir ke barat di wilayah Nganjuk, berganti ke Timur. 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Redaksi Radar Nganjuk
#ulama #nganjuk #nu