NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Misteri batu besar di rumah Suprianto, warga Desa Mojorembun, Kecamatan Rejoso yang diduga meteorit bakal terpecahkan. Tim dari Museum Geologi Bandung lalu bakal memecahkan teka-teki batu tersebut.
Datang ke Nganjuk sejak Kamis (15/2) lalu, tim Geologi Bandung masih melakukan penelitian lanjutan. Tidak hanya memeriksa batu yang ada di rumah Suprianto, mereka juga masuk ke Hutan Tritik, Kecamatan Rejoso. “Kami mengambil sampel batu yang ada di sekitar lokasi penemuan,” ujar Ketua Tim Penyelidikan, Konservasi, dan Koleksi Museum Geologi Bandung, Unggul Prasetyo Wibowo.
Tim berjumlah lima orang itu meneliti lokasi penemuan batu serta membawa enam buah batu yang akan dijadikan sampel.
"Kami ambil sampel di dekat lokasi penemuan karena batu di rumah Pak Suprianto terlalu besar untuk dibawa," ungkap pria yang kerap disapa Unggul.
Batu yang menjadi sampel itu ukurannya beragam. Semuanya dibawa ke Museum Geologi Bandung untuk diteliti lebih lanjut. Untuk diketahui, Unggul dan timnya telah memeriksa batu di rumah Suprianto dengan alat X-Ray Fluoresence (XRF). Hasilnya tiga batu yang disimpan di rumah Suprianto tidak mengandung nikel. "Hanya ada kandungan besi dan silika saja," ujar Unggul.
Meski begitu, Unggul menegaskan, hasil pemeriksaan dengan XRF tidak bisa memastikan apakah batu tersebut benar-benar meteorit. Hal itu disebabkan alat XRF tidak dapat menjangkau pantulan sinar sampai ke bagian terdalam batu. Oleh karena itu, tim Museum Geologi Bandung akan melakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan alat laboratorium. "Kami ambil sampel karena tidak memungkinkan untuk membawa batu sebesar itu dalam perjalanan kembali ke Bandung," ujar Unggul.
Selama tiga jam di dalam hutan, tim Museum Geologi Bandung meneliti topografi jalan dan aliran sungai. Unggul dan tim menjelaskan, batu yang ditemukan di sekitar sungai tersebut diduga kuat berasal dari proses gunung berapi yang terjadi ribuan tahun lalu. "Dugaan ini berdasarkan bentuk batu, kandungan yang ditemukan dengan alat XRF dan bentuk tanah di sekitar lokasi," ungkap Unggul.
Meski begitu, Unggul tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan. Ia menegaskan, penelitiannya harus dilakukan sedetail mungkin. "Bisa saja, karena proses ribuan tahun, tanahnya tertutup dengan bentuk tanah di hutan. Kemungkinan batu meteorit masih ada. Jadi, harus tetap diteliti sedetail mungkin," beber Unggul.
Penelitian yang dilakukan tim Museum Geologi Bandung diharapkan dapat memberikan jawaban yang pasti mengenai asal-usul batu-batu di Hutan Tritik tersebut.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk