Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Inilah Sosok Purnawan, Seniman Barongsai Asal Kertosono

rekian • Jumat, 23 Februari 2024 | 18:58 WIB
Photo
Photo

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Purnawan bekerja sebagai penjual soto. Mudah saja jika ingin bertemu dengan pria asal Desa Kudu, Kecamatan Kertosono itu. Dia biasanya berjualan soto di dekat Rumah Sakit Kertosono Lama. Jika tidak ada job tampil di untuk pertunjukan barongsai, lelaki berambut ikal itu pasti ada di sana.

Tidak seperti Jumat (9/2) sore itu. Ketika jarum jam mengarah di angka 15.00, lelaki kelahiran 1981 itu tampak sibuk di beranda rumahnya. Di teras berlantai semen itu, Purnawan membersihkan barongsai kesukaannya.

Tangannya mengelus setiap lekuk barongsai berwarna merah dan hitam itu dengan hati-hati. “Walau jobnya sedang sepi, barongsainya tetap dibersihkan,” tutur Purnawan saat wartawan koran ini bertandang ke rumahnya sore itu.

Meski bayang-bayang festival akan sepi sama seperti tiga tahun terakhir, baginya itu bukanlah masalah. Dia menyebut barongsai bukan sekadar kesenian.

Tapi nadi untuk kehidupan. Sejak usia 8 tahun, dia telah mendedikasikan diri untuk melestarikan tradisi barongsai. "Saya sama sekali tidak pernah berpikir untuk berhenti menjadi pelaku seni barongsai meski sepi pertunjukan," tegas Purnawan, sembari mengelap sisik naga emas di barongsainya.

Di usianya yang tak lagi muda, Purnawan konsisten merawat seni tradisi yang dicintainya sejak kecil. Dia tidak pernah surut untuk mencintai barongsai meskipun badai pandemi Covid-19 telah melumpuhkan dunia pertunjukan. Bahkan tahun ini belum ada yang mengundangnya untuk tampil saat Imlek. Padahal sudah tiga tahun sepi job karena Covid-19. "Saya tetap berlatih dan merawat barongsai. Ini bukan hanya hobi tapi juga tanggung jawab untuk melestarikan budaya," tegasnya.
Bagi Purnawan, barongsai bukan milik etnis tertentu. Menurutnya barongsai ini milik semua orang yang mencintai seni dan budaya. Dia tak segan membuka pintu bagi siapa saja yang ingin belajar barongsai. Dengan catatan, mereka harus menghormati nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. "Barongsai adalah simbol keberuntungan dan kemakmuran. Atraksinya yang penuh makna dan nilai budaya harus dilestarikan," tuturnya.

Di balik gerakan barongsai yang menawan, terdapat disiplin dan kerja keras yang tak terbayangkan. Purnawan menanamkan nilai-nilai ini kepada 27 anggotanya, agar mereka dapat meneruskan tradisi ini. "Seni barongsai bukan hanya tentang atraksi tapi juga tentang disiplin, kerja keras, dan penghormatan terhadap budaya," pesannya. Setiap diundang untuk tampil pertunjukan, dia dan krunya berjumlah 28 orang biasanya hanya dibayar Rp 4 juta maksimal tiga jam. Sedangkan ketika main ke luar kota, Purnawan mengaku hanya dibayar Rp 7 juta untuk sekali main. Uang tersebut dibagi ke semua anggota tim serta untuk merawat barongsai saat di rumah. 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : Redaksi Radar Nganjuk
#Sosok #seniman #inspiratif #nganjuk