NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Pelajar yang menjadi pengguna dating apps atau aplikasi kencan online sering jadi korban. Hal itu terjadi setelah sang pelajar bertemu dengan calon pasangan di aplikasi kencan online. Mereka biasanya bertemu di salah satu kafe di Nganjuk. “Mayoritas wajah tidak sesuai dengan fotonya,” aku Centil (bukan nama sebenarnya, red), 16, siswi SMA di Kabupaten Nganjuk.
Hal itu karena pengguna akun ternyata mengedit foto profil di akunnya. Sehingga, kulitnya yang sawo matang menjadi putih seperti artis Korea. “Beda 180 derajat,” ujarnya.
Selain kecewa karena wajah sang cowok tidak sesuai harapan, Centil juga sering sakit hati setelah kencan offline. Sang cowok playboy atau yang biasa disebut Fakboy sering ghosting atau menghilang tanpa meninggalkan jejak. Akun medsos Centil diblokir. “Nomor WhatsApp (WA) juga diblokir,” keluh Centil.
Hal itu membuat Centil jadi minder. Dia merasa ada yang salah pada dirinya. Mulai dari penampilannya, wajahnya, hingga sikapnya saat bertemu di kencan offline. Karena perubahan sikap Fakboy itu sangat drastis dan mendadak setelah pertemuan. “Padahal, saat sebelum bertemu itu dia sangat perhatian dan intensif berkomunikasi,” ujarnya.
Sementara itu, Fakboy mengaku sengaja melakukan ghosting karena kecewa. Centil di dunia maya ternyata berbeda dengan Centil di dunia nyata. "Fotonya cantik, putih, dan manis tapi saat bertemu ternyata kayak Mbak Kuntilanak," keluhnya.
Oleh karena itu, Fakboy juga merasa tertipu dengan Centil. Ekspektasi terkait Centil tidak tecapai. Setelah bertemu di kafe, akhirnya Fakboy memilih melakukan ghosting. "Ngobrolnya juga gak nyambung ternyata. Masih bocil," keluhnya.
Baca Juga: Mengenal Komunitas Pantomim Nganjuk, Diminati Karena Jadi Senjata Siswa di PPDB
Sementara itu, Dokter Spesialis Kejiwaan RSD Nganjuk dr Fendy Hardyanto SpKJ mengatakan, menggunakan aplikasi kencan online itu sangat berbahaya bagi pelajar. Karena dampaknya sangat besar bagi anak yang belum dewasa atau cukup umur. Salah satunya jika pasangan kencan online melakukan ghosting. "Ghosting itu secara tidak langsung merupakan bentuk penolakan yang membuat anak menjadi tidak percaya diri dan kebingungan berlebihan,” ujarnya.
Hal itu akan berpengaruh pada mental anak. Dia menjadi tidak percaya diri dalam berbagai hal. Konsentrasi belajar juga akan terganggu. Karena siswa yang menjadi korban ghosting akan menjadi tidak termotivasi dalam belajar. Padahal, tugas utama pelajar adalah belajar. Bukan pacaran.
Fendy mengatakan, aplikasi kencan online bukan untuk anak di bawah umur atau pelajar. Secara mental, anak masih belum siap untuk menjalin hubungan asmara. Risiko dan dampaknya sangat besar bagi mentalnya.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk