Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Warkop Mbah Wir Pertahankan Konsep Tempo Doeloe, Serasa Ngopi di Rumah Sendiri

Redaksi Radar Nganjuk • Senin, 13 Mei 2024 | 22:35 WIB

Photo
Photo

NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Warkop Mbah Wir memang pantas disebut warung kopi legendaris. Selain rasa kopinya yang khas dan nikmat, suasana warung kopinya juga sangat autentik. Nuansa tempo doeloe sangat terasa. Mulai dari furniture bangunan warungnya hingga perabotan jualannya. Jaminem, pemilik Warkop Mbah Wir sengaja mempertahankan nuansa tempo dulu agar pelanggan yang datang bisa merasakan sensasi ngopi seperti di rumah sendiri.
“Semuanya pakai kayu jati, kursi dan meja. Bahkan bangunan rumah Mbah saya juga masih dipertahankan, bentuk atap hingga tidak ada plafon seperti rumah jaman dulu,” ujar Hartatik, 52, cucu pertama Jaminem.

Baca Juga: Warung Kopi Mbah Wir, Warkop Legendaris Kota Angin Sejak 1964


Ya, Jaminem berjualan ditemani oleh dua cucunya. Saat pagi hari pukul 06.00 hingga 16.00, Jaminem ditemani oleh Maryati, 50, cucu nomor dua. Kemudian pukul 16.00 hingga 21.00 ditemani oleh Hartatik. “Mbah ini total cucunya ada lima, cicit Sembilan, canggah satu,” ujar Hartatik.
Hartatik menceritakan awal mula Jaminem membuka warung kopi bersama kakeknya Wiryodikromo. Saat itu sekitar tahun 1950-an, Jaminem bersama Wiryo berjualan es strup di daerah Kecamatan Rejoso. Hanya saja, usaha es strupnya harus terhenti dan memilih kembali ke rumahnya di Werungotok, dan memutuskan berjualan kopi. “Tapi es strupnya tetap, hanya saja orang-orang lebih suka dengan kopinya. Sehingga pada 1970-an sudah tidak berjualan es strup lagi,” imbuhnya.


Untuk menghasilkan rasa kopi yang khas dan nikmat, Maryati, cucu kedua Jaminem harus menggoreng kopi selama 30 menit. Biasanya Maryati harus menggoreng sebanyak 2 kilogram kopi mentah. 2 kilogram kopi itu akan habis dalam waktu dua hari. “Per hari hanya 1 kilogram kopi,” ujar Maryati.

Baca Juga: Tiga CJH Nganjuk Gagal Berangkat ke Tanah Suci, Ini yang Dilakukan Kemenag


Hal itu dikarenakan Warkop Mbah Wir tak hanya menyediakan kopi saja. Melainkan juga ada menu lain, yakni kolak roti, ronde, nasi banting, aneka gorengan, hingga getuk goreng. Semua yang dijual hasil olahan sendiri. Biasanya sebelum pukul 06.00 Maryati dan Jaminem bersiap memasak dan menggoreng aneka jajanan, kemudian setelah masak baru warung kopinya dibuka. “Ya jam 05.00 atau 05.30 itu dimulai memasak nasi banting, kemudian nanti saat buka juga disambi menggoreng jajanan, yang melayani ngeracik kopi ya Mbah sendiri,” tutur Maryati.

Editor : Redaksi Radar Nganjuk
#radar nganjuk #jawa pos #legendaris #warkop