20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Salah satu tokoh kebangkitan nasional berasal dari Nganjuk adalah dr Soetomo. Hingga akhirnya di Loceret didirikan Monumen dr Soetomo untuk mengenang perjuangan dan jasa-jasanya.
"Salah satu peninggalan dari dr Soetomo yang bisa dilihat adalah alat-alat praktik miliknya. Yang sekarang ada di Monumen dan Museum dr Soetomo di Ngepeh, Kecamatan Loceret," ujar Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk Sri Handaraningsih melalui Kabid Kebudayaan Amin Fuadi.
Meski hanya alat kesehatan dari Soetomo saja yang ditinggalkan di museum tersebut, namun nilai historisnya sangat tinggi.
Karena perjuangan pahlawan yang lahir di Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret itu sangat besar untuk kemerdekaan Republik Indonesia. Lebih tepatnya dengan jalur diplomasinya.
Perjuangan Soetomo bisa dilihat di Monumen dan Museum dr. Soetomo. Di sana ada buku-buku yang dibacanya, alat-alat kedokteran seperti stetoskop, mikroskop, vial obat, jarum suntik, hingga kursi periksa. "Sangat identik dengan dr Soetomo. Karena sejak awal beliau termasuk yang berjuang dengan pendidikan," kata Amin.
Makanya, meski "hanya" ditinggali oleh barang-barang kerja dan belajarnya, justru hal tersebut yang malah membuat masyarakat, khususnya warga Kota Angin memiliki semangat yang sama dengan dr Soetomo. Yaitu memiliki cita-cita untuk meraih ilmu setinggi-tingginya. "Bagi saya, dr Soetomo itu dibilang salah satu tokoh kebangkitan itu sudah sangat pas. Beliau berjuang lewat jalur diplomasi, membuat organisasi pemuda pertama yang bisa dibilang memulai rentetan peristiwa hingga terjadinya proklamasi kemerdekaan," ungkap Amin.
Makanya, Amin mengatakan, jika peninggalan sekecil apapun yang ada, makanya perlu penanganan yang profesional juga. Jangan sampai, barang-barang bernilai historis yang tinggi itu tak terawat. Karena tujuan dari adanya monumen dan museum itu juga untuk menggeliatkan semangat pemuda di Kota Angin untuk meraih cita-cita setinggi pendahulunya. Bahkan bisa jadi harus lebih baik.
Dari pandangan mata wartawan koran ini, museum yang dibangun tahun 1986 itu, masih terawat. Terutama barang-barang atau alat kesehatannya. Karena disimpan dan setiap hari dibersihkan oleh pegawai Disporabudpar Kabupaten Nganjuk.
Amin mengatakan, meski yang dijaga dan dibersihkan adalah hal yang mudah, yaitu alat kesehatan, namun tetap dengan menggunakan prosedur yang ketat dan tepat. "Kami juga sudah berlatih dan diklat untuk SOP perawatan di museum. Jadi kami pastikan tidak ada barang yang rusak. Meski alat kesehatan bisa dibilang lebih mudah untuk dibersihkan, tapi tetap kami harus teliti," ujarnya.
Salah satu hal yang membuat kotor dari alat kesehatan adalah debu. Makanya, Amin selalu memastikan setiap hari, alat kesehatan harus bersih dari debu. "Kalau buku. Kami juga lakukan pengasapan agar tidak makan rayap," ujarnya.