Perjalanan Kepala SMPN 1 Tanjunganom Ponco Yuliono untuk menjadi guru tidak mudah. Saat dia kuliah, Ponco harus sambil bekerja. Karena Ponco harus memenuhi biaya kuliah dan hidup di Surabaya sendiri.
“Hidup itu harus diperjuangkan. Termasuk, cita-cita kita,” tandas Kepala SMPN 1 Tanjunganom Ponco Yuliono kepada wartawan koran ini. Ponco sendiri mengalaminya. Dia harus mampu berdiri di atas kaki sendiri selama kuliah. Alasannya adalah karena orang tua yang tidak punya biaya untuk kuliah Ponco. Maklum, Ponco memiliki enam saudara. Sang ayah yang bekerja sebagai anggota TNI harus bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya yang saat itu masih kecil-kecil.
Namun Ponco memiliki cita-cita yang tinggi. Yaitu menjadi seorang guru. Untuk mewujudkannya dia berusaha keras bisa kuliah dengan biaya sendiri. Mulai dari untuk ngekos, makan, hingga bayar uang kuliah.
“Mau gak mau saya harus kerja serabutan,” sambung kepala sekolah yang tinggal di Desa Jekek, Kecamatan Baron itu. Tak terhitung sudah berapa pekerjaan yang pernah dia geluti. Mulai dari loper koran, jual es lilin, dan masih banyak yang lainnya. Semuanya itu dia lakukan dengan satu tujuan. Untuk ingin menjadi guru.
Beruntung masa-masa itu dapat dia lalui. Bapak dua anak itu bisa lulus dari pendidikan S1 Seni Budaya di Universitas Surabaya (Unesa). “Saya itu lulus sekitar tahun 90 terus baru diangkat jadi PNS di Surabaya di tahun 1992,” ungkapnya.
Ponco lalu kembali ke Nganjuk pada tahun 1995. Saat itu dia menjadi guru kesenian di SMPN 1 Tanjunganom. Dia lama menjadi guru di SMPN 1 Tanjunganom. Hingga Mei 2022 dia resmi menjabat Kepala SMPN 3 Tanjunganom. Namun baru menjabat satu tahun Ponco pun bergeser kembali menjadi ke SMPN 1 Tanjunganom. Dengan jabatan baru yaitu sebagai kepala sekolah.
Selama menjadi guru, Ponco mengaku jika dirinya terkenal disiplin. Karena memang seperti itu dia dididik sejak kecil hingga lulus kuliah. Namun Ponco memiliki alasannya sendiri. Yaitu ingin anak didiknya menjadi orang yang disiplin. “Disiplin itu kunci untuk meraih kesuksesan,” tandasnya.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk