Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Ekonomi & Bisnis Lifestyle Seni & Budaya Opini Khazanah Video

Melihat Perahu Penyeberangan di Desa Munung, Kecamatan Jatikalen , Angkut Sepeda Motor hingga Bus Menyeberangi Sungai Brantas

Redaksi Radar Nganjuk • Minggu, 10 November 2024 | 22:59 WIB
Photo
Photo

Desa Munung di Kecamatan Jatikalen terkenal dengan perahu penyeberangan. Diketahui bisnis tersebut sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Semuanya berawal ketika salah satu warga merasa kasihan dengan pedagang yang harus memutar ketika ingin berjualan di Pasar Munung.

Desa Munung di Kecamatan Jatikalen menjadi desa paling ujung di timur laut Kabupaten Nganjuk. Meski menjadi desa paling ujung, Desa Munung tak pernah sepi. Karena di sana ada perahu penyeberangan di Sungai Brantas. Perahu penyeberangan itu menjadi alat transportasi warga Kecamatan Jatikalen dengan Kecamatan Megaluh di Kabupaten Jombang.

          Hingga kemarin (8/11) total ada lima perahu penyeberangan. Setiap hari, kelima perahu itu bisa menyeberangkan ratusan hingga ribuan kendaraan. Mulai dari sepeda ontel, sepeda motor, mobil, bahkan hingga bus. “Hampir semua kendaraan bisa masuk perahu penyeberangan,” terang Puji Susilo, 40, salah satu pemilik perahu penyeberangan di Desa Munung.

          Menurut Puji, keberadaan perahu penyeberangan di desa itu sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Jika tidak salah mengingat, perahu penyeberangan itu sudah ada sejak sekitar tahun 1950.

          Orang yang pertama kali membuat perahu penyeberangan bernama Sabar. Dia adalah kakek dari Puji Susilo. Saat itu, Desa Munung sedang ramai-ramainya. Pasar Munung menjadi sentra perdagangan di wilayah tersebut. Pedagangnya bahkan banyak yang berasal dari Kabupaten Jombang. “Saat itu Munung sedang jaya-jayanya. Banyak pedagang yang ke sini,” tambahnya.

          Sayang, bagi masyarakat Kabupaten Jombang, pergi ke Desa Munung adalah perkara sulit. Mereka harus mencari jalan memutar hingga ke Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang. Jaraknya sekitar 10 kilometer (km).

          Sabar yang mengetahui hal itu lalu merasa kasihan. Lalu, Sabar mencoba membuat perahu penyeberangan. Saat itu perahu yang digunakan sangat sederhana. Hanya menggunakan bambu. Kemudinya juga menggunakan galah yang panjangnya hanya sekitar tiga meter. “Dulu Sungai Brantas tidak sedalam saat ini. Jadi masih mudah pakai perahu bambu,” tandasnya.

          Seiring berjalannya waktu, bisnis tersebut berkembang. Hingga di akhir 1990, perahu itu menjadi lebih modern. Sudah menggunakan mesin. Ditambah dimensi perahu juga lebih besar. Sehingga, perahu tidak hanya menyeberangkan orang. Namun kendaraan bermotor.“Baru setelah itu banyak warga sini yang beli perahu untuk penyeberangan,” tandas pria yang kini meneruskan bisnis kakeknya itu.

          Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Nganjuk Tri Wahyu Kuntjoro mengatakan pihaknya selalu memonitor perahu penyeberangan di Desa Munung. Menurutnya perahu-perahu tersebut dapat menjadi moda transportasi alternatif bagi masyarakat yang ingin pergi ke Jatikalen ke Megaluh atau sebaliknya. “Kami selalu ingatkan petugas perahu untuk hati-hati dan mengutamakan keselamatan,” ujarnya. (wib/tyo)

 

Tak Berani Beroperasi saat Cuaca Buruk

Photo
Photo

 

TIDAK selamanya bisnis perahu penyeberangan di Desa Munung, Kecamatan Jatikalen berjalan mulus. Ada hari-hari bisnis tersebut tidak berjalan lancar. Salah satunya ketika cuaca buruk. Bahkan saat cuaca buruk itu, para pemilik bisnis lebih banyak memilih untuk libur. “Cuaca buruk itu pantangan. Lebih baik tutup daripada tidak selamat,” terang Puji Susilo, 40, salah satu pemilik perahu penyeberangan di Desa Munung.

          Puji menerangkan, cuaca buruk menjadi salah satu musuh terbesar pengusaha perahu. Karena saat cuaca buruk, tingkat kemungkinan kecelakaan semakin tinggi.

          Tentu Puji tak ingin hal itu terjadi. Alhasil, untuk menyiasatinya, Puji lebih memilih untuk tidak beroperasi. Hal itu diketahui juga dilakukan oleh para pemilik perahu lain di Desa Munung.     “Dulu juga pernah ada kecelakaan di sini. Perahunya hanyut hingga ke wilayah Jombang,” tambahnya.

          Selain memperhatikan kondisi cuaca, banyak hal yang dilakukan Puji untuk meningkatkan keselamatan penumpang. Salah satunya adalah mengikuti sosialisasi keselamatan secara rutin. Bahkan setiap empat bulan sekali, dia bersama pemilik perahu lain selalu ikut sosialisasi yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur.           “Sosialisasi dari Dishub Nganjuk ya ada. Jadi harus ikut dua kali,” tandasnya.

          Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Nganjuk Tri Wahyu Kuntjoro mengatakan, dishub tidak tutup mata terkait perahu penyeberangan. “Kami beri bantuan alat keselamatan seperti pelampung ke penumpang dan operator perahu,” ujarnya. (wib/tyo)

 

Sebulan Untung Tembus Rp 24 Juta

Photo
Photo

ADA alasan mengapa warga Desa Munung banyak yang memiliki perahu penyeberangan. Salah satu alasannya adalah karena keuntungan yang menjanjikan. Bahkan, dalam sehari para pemilik perahu bisa mendapat omzet hingga Rp 2 juta. “Tergantung ramai atau tidaknya. Tapi kalau dirata-rata ya Rp 2 juta per hari,” terang Puji Susilo, 40, salah satu pemilik perahu penyeberangan di Desa Munung.

          Maklum saja, jumlah penumpang yang menyeberang bisa mencapai ratusan per hari. Mulai dari sepeda motor, mobil, bus, hingga truk. Untuk masing-masing kendaraan, tarif yang diberikan berbeda-beda. Seperti, sepeda motor Rp 2 ribu. Lalu, mobil Rp 5 ribu. Sedangkan, bus dan truk Rp 10 ribu.

          Namun omzet tersebut tidak 100 persen diterima Puji. Karena dia harus membayar biaya operasional yang tidak sedikit. Biaya operasional terbanyak datang dari bahan bakar perahu. Selama 24 jam buka, Puji setidaknya membutuhkan solar sebanyak 30 liter. Selain itu, Puji juga membutuhkan bensin sebagai lampu penerangan perahu. Untuk satu malam, Puji dapat menghabiskan lima hingga 10 liter bensin.

          Tidak hanya itu, Puji juga harus membayar karyawannya. Total dalam sehari ada sekitar enam hingga sembilan karyawan yang bekerja. Nantinya mereka akan dibagi ke dalam tiga shift. Masing-masing shift mereka akan bekerja selama delapan jam. “Perahu penyeberangan saya istimewa. Bukanya 24 jam, “ tandasnya.

          Dari omzet Rp 2 juta itu, hanya sekitar 40 persen yang dia terima atau Rp 800 ribu. Meski demikian, jumlah tersebut sudah terbilang banyak. Karena kalau dikalikan selama 30 hari, maka jumlahnya sekitar Rp 24 juta. (wib/tyo)

 

 

Editor : Redaksi Radar Nganjuk